Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Warga Tomalaou-Gurabati Di Malut Bentrok

0 245

Ternate, TN – Bentrok antar warga terjadi di Kelurahan Tomalaou dan Gurabati, Kecamatan Tidore Selatan, Provinsi Maluku Utara. Dua kelompok warga ini saling baku lempar menggunakan batu. Untungnya, pihak kepolisian Polres Tidore yang dibantu Kodim 1525/Tidore, turun di lokasi dan berhasil mengamankan situasi.

Bentrok antar warga dua kelurahan ini, dipicu saat calon anggota DPR RI, dari Partai Nasdem asal Maluku Utara (Malut), Ahmad Hattari diberi kesempatan berbicara memberi himbauan usai shalat Jumat di Masjid Agung Nurul Bahar, Kelurahan Tomalou. Hatari menyebutkan, dari sekitar 2.000 pemilih yang ada dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Tomalou, perolehan suaranya hanya 700 suara.

Dia heran, lantaran ada tiga suara yang diraih Irene Hui Roba yang adalah, politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang juga putri dari mantan Bupati Halmahera Barat, Namto Hui Roba. Sementara, warga Tomalou saat ditanya kenal Irene, mereka mengaku tidak mengenal.

Atas perolehannya itu, Hatari mengatakan, jika KPU berkenan, maka dirinya meminta izin ke lurah Tomalau untuk mengembalikan 700 suara tersebut ke KPU. “Karena suara ini saya tidak butuh sama sekali. Tanpa 700 suara ini, mudah-mudahan saya akan menang. Posisi kursi akan aman. Jadi setelah ini, selesai Ashar, saya akan berhubungan dengan KPU, Bawaslu. Jadi tolong, orang Tomalou mencabut mandat 700 suara ini (dan berikan) kepada orang-orang yang tadi saya sebut. Irene, Syaiful Ruray. Saya tidak butuh 700 suara ini. Terima kasih banyak,” ujar anggota Komisi XI DPR RI ini di hadapan jamaah masjid, Sabtu (20/4).

Menurut dia, ini hanyalah satu proses pendidikan politik. Menurut Hatari, ada orang yang terpilih, namun saat pelantikan, yang bersangkutan tidak bisa dilantik, karena partainya jongkok. “Seperti Hanura, sampai dengan hari ini elektabilitasnya baru 1 persen. Jadi walaupun partai ini kadernya terpilih, dia tidak akan dilantik. Ada 6 partai, Perindo, termasuk Hanura. Jadi, 700 suara itu bisa diberikan ke mereka. Lillahi Ta’ala. Terakhir, untuk karpet di atas (sembari menunjuk lantai dua masjid) yang sudah saya berikan, di tempat ini saya beritahu bahwa dengan segala permintaan maaf, saya belum bisa pasang, dan bahkan saya tidak akan pasang lagi,” kata dia.

Bahkan, Hatari meminta kepada masyarakat Tomalou yang memiliki hak pilih, agar berhubungan langsung dengan caleg lain, untuk ikut memberi perhatian. “Bukan cuma masyarakat, tapi juga tempat ibadah di kelurahan ini. Ini saya harus bicara. Jangan sampai di kemudian hari, (dibilang) Pak Hatari ini kok cuma janji-janji,” tuturnya.

Usai menyampaikan perihal ini, warga Tomalou akhirnya menyeret karpet dan memboyong ke rumah Hatari di Kelurahan Gurabati. Namun, isu yang beredar di kalangan masyarakat Gurabati, warga Tomalou melakukan penyerangan. Akibatnya, bentrokan tak terelakkan. Untunglah aparat keamanan bertindak cepat mengamankan situasi.

Anda mungkin juga berminat