Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Warga Mengamuk, Proses Eksekusi Lahan di Batu Merah Batal

0 59

Ambon, TN – Pengadilan Negeri Ambon akhirnya membatalkan proses eksekusi lahan milik Marthen Hentiana di Negeri Batu Merah, Kota Ambon, setelah terjadinya aksi unjuk rasa sebagai bentuk protes ratusan warga Negeri Batu Merah, Selasa (12/2).

Aksi yang berlangsung di sejumlah kawasan di Kota Ambon yaitu area Gong Perdamaian Dunia, Kantor Pengadilan Negeri Ambon dan depan Kampung Negeri Batu Merah ini sempat ricuh.

Kericuhan terjadi setelah massa aksi kembali dari kantor Pengadilan Ambon. Mereka yang merasa tidak puas mencoba memblokir ruas jalan Jenderal Sudirman dan Sultan Hassanudin Kota Ambon.

Warga mengamuk setelah melihat aksi ringan tangan aparat kepolisian terhadap seorang pemuda hingga harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit Bhayangkara Ambon. Bahkan, dua pemuda Batu Merah lainnya juga diamankan polisi.

Keributan yang terjadi di dua ruas jalan itu, mengakibatkan kemacetan lalu lintas selama kurang lebih 1 jam. Warga meminta aparat, agar mengembalikan dua warga yang ditahan. Polisi juga diminta untuk menangkap sejumlah oknum polisi yang melakukan kekerasan.

“Rencananya eksekusi berlangsung tanggal hari ini (kemarin). Tapi karena ada tanggapan dari masyarakat tadi, makanya kita harus bijak kan. Dilihat dulu ini itunya. Ada pertimbangan tersendiri. Sehingga eksekusi untuk sementara dibatalkan,” kata Kepala Humas Pengadilan Negeri Ambon Hery Setyabudi kepada wartawan, di Ambon, Selasa (12/2).

Intinya, kata Hery, perkara itu sudah berkekuatan hukum tetap. Perkara tersebut telah sampai pada PK. Namun siapa pemohon PK tidak diketahui. “Kalau Pemerintah Negeri bukan sebagai pihak (pemohon). Mereka menolak eksekusi karena tanah itu tanah adat yang ada dalam kekuasaan saniri,” katanya.

Karena telah berkekuatan hukum tetap, Hery mengaku, pihaknya sebagai lini terdepan tetap akan melakukan eksekusi. Warga keberatan eksekusi karena pernah juga dieksekusi tahun 2004. Warga juga menemukan persoalan sertifikat di atas sertifikat.

“Menurut versinya mereka ada sertifikat di atas sertifikat. Itu yang berat buat kita di sini. Memang sering terjadi seperti itu,” ujarnya.(*)