Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Waduh! Di Kampung Ini, Ibu Melahirkan Ditangani Sendiri Oleh Warga

0 93

Aimas, TN – Memprihatinkan dan salut. Itulah dua kata yang pantas untuk diungkapkan terhadap warga di Kampung Mamsit Distrik Botain. Meski secara administrasi kependudukan mereka sah tercatat dan menjadi bagian dari masyarakat Kabupaten Sorong, nyatanya dalam urusan pelayanan kesehatan dari pemerintah, warga di kampung ini masih belum merasakan seperti layaknya penduduk lain di daerah yang dipimpin Bupati Johny Kamuru ini.

Memprihatinkan, karena ketika ada warga yang sakit, pihak keluarga hanya membuatkan ramuan tradisonal untuk menyembuhkan, atau diberi obat seadanya yang sebelumnya dibeli dari apotek ketika turun ke kota.

“Kalau tidak sempat bawa turun (ke kota), sementara ibu hamil itu sudah sakit sekali perutnya mau melahirkan, ya kami tangani sendiri,” kata Hagar Kutumun, salah seorang warga Kampung Mamsit kepada TeropongNews.com.

Hagar Katumun adalah salah satu dari 207 warga yang tinggal di kampung itu. Pada saat pemilihan Bupati Sorong pada awal tahun 2017 lalu, menurut Maniel Syalubu, Kepala Kampung Mamsit, 100 persen warganya memilih pasangan Dr. Johny Kamuru SH. MSi dan Suko Harjono SSos.Msi untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati.

Jarak tempuh untuk menuju kampung itu lumayan panjang. Jika Bupati Johny Kamuru ingin melihat langsung kehidupan warga pendukungnya di Kampung Mamsit, harus melakukan perjalanan darat selama 1 jam, dilanjut perjalanan sungai menggunakan perahu sekitar 3 jam.

Elizabeth Nussy Ssit, Penanggungjawab Kesehatan Ibu dan Anak Dinas Kesehatan Kabsor, mengakui kenyataan belum adanya pelayanan kesehatan di Kampung Mamsit. Idealnya, setiap distrik harus memiliki 1 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Puskesmas Pembantu (Pustu) di masing-masing kelurahan atau kampung.

“Distrik Botain ini kan masih baru pemekaran, jadi memang belum ada Puskesmas, apalagi pustu,” kata Elizabeth.

Menurutnya,  bukan hanya di Kampung Mamsit yang belum ada Puskesmas, tapi juga di Kampung Bagun. Untuk menempatkan petugas kesehatan di wilayah pemekaran seperti itu, kata Elizabeth, bukan perkara yang mudah, mengingat terbatasnya jumlah tenaga medis dan fasilitas pendukungnya.

“Disana itu banyak pemekaran, tenaga kesehatan kami di distrik sangat kurang, apalagi untuk satu kampung satu tenaga kesehatan, itu sangat sulit. Kalau pun ada, kami tidak bisa menjamin keselamatan petugas. Bisa saja diganggu, atau rumah tempat tinggal mereka yang belum ada,” urai Elizabeth.

Dari data di Kementerian Dalam Negeri, Distrik Botain adalah distrik baru yang dibentuk pada 2013. Distrik Botain memiliki 4 kampung, yakni Kampung Klafluk (semula ikut Distrik Klabot), Kampung Mamsit (semula ikut Distrik Beraur), Kampung Sabake serta Kampung Klayastani. Dua kampung yang disebut terakhir, adalah hasil pemekaran dari kampung Wanurian Distrik Beraur.

Sebelum Pemilihan Bupati pada 2017 lalu, warga di Kampung Mamsit mendapat bantuan rumah tinggal dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispenduk Capil) sebanyak 10 unit. Penyerahan rumah itu dilakukan langsung Kepala Dispenduk Capil Drs. Olden Makpal pada 31 Januari 2017.

Kepala Kampung Mamsit, Maniel Syalubu menjelaskan, saat ini jumlah Kepala Keluarga yang menghuni perkampungan di pesisir sungai itu ada 25 KK. Yang membuat salut, meski masih belum tersentuh pelayanan kesehatan dari pemerintah, penduduk Kampung Mamsit tidak mau menyerah dengan keadaan ketika ada warga yang sakit.

“Sementara ini seperti begitu. Karena tidak mendapatkan layanan kesehatan, kita tangani sendiri saja,” katanya.

Upaya agar penduduk Kampung Mamsit bisa mendapat layanan kesehatan, Hagar Katumun meminta ada pelatihan dan pembinaan terhadap kader posyandu di Mamsit. Ditemani Viona Mlasmene, dia menyampaikan permohonan itu saat diundang dalam Lokakarya Mini tentang Tumbuh Kembang Anak Bagi Kader Posyandu 2019, di Aimas.

“Kami belum memiliki kader posyandu. Makanya kami minta dukungan dari Dinas Kesehatan dan Kepala Distrik untuk membentuk Posyandu,” kata Hagar. **

Anda mungkin juga berminat