Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Tarian Wala Dari Misool Resmi Jadi Warisan Tak Benda Indonesia

0 416

Misool, TN – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Pemerintah kabupaten Raja Ampat, menyerahkan secara simbolis penghargaan tarian Wala yang telah ditetapkan sebagai Warisan Tak Benda Indonesia kepada perwakilan ketua adat suku Matbat di Misool Raja Ampat.

Penyerahan penghargaan tersebut, tepat diakhir acara pembukaan festival Pesona Misool 2019 di kampung Harapan Jaya distrik Misol Selatan, Raja Ampat Papua Barat, Sabtu (23/11).

Tarian Wala yang telah ditetapkan sebagai Warisan Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan usulan provinsi Papua Barat yang mencanangkan pemusatan karya budaya Wala di Misool.

Usulan tersebut ditandatangani langsung oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Effendy Muhadjir pada tanggal 8 Oktober 2019 di Jakarta.

Salah satu staf Balai Budaya Arkeologi Jayapura, yang juga merupakan anak asli Misool dari kampung Fafanlap, Abdul Razak Macap, sebelumnya telah melakukan penelitian dan pengkajian tentang tari Wala ini.

Menurut keterangan kepada teropongnews.com melalui sinopsis yang diberikannya, Wala dapat diartikan sebagai nyanyian yang dibawakan dengan gerak tari dalam budaya orang Matbat.

Wala merupakan tradisi lisan dalam budaya suku Matbat atau orang Matbat sebagai suku asli di Misool, kabupaten Raja Ampat.

Masyarakat di Misool secara luas mengenal Wala sebagai Ian Batan O atau lagu tanah yang mengandung pengertian nyanyian yang dibawakan dalam bentuk tarian pada orang Matbat yang berkisah tentang asal usul Batan Me/Batan Msool dan persebaran asal usul dan kehidupan orang Matbat dan segala bentuk peristiwa yang mereka alami.

Sehingga bagi orang Matbat, Wala dipandang sebagai sesuatu yang dianggap sakral berkaitan dengan upacara sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Dalam penyampaiannya, Wala dilakukan secara lisan diikuti dengan gerak yang oleh orang Matbat disebut Sibilwala (dansa Wala). Sebagai kajian folklor, Wala merupakan tradisi lisan dimana dalam kajian isi dari Wala ditemukan berbagai pesan dan nilai kritik ataupun nasehat yang berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dalam kehidupan orang Matbat yang sifatnya simbolik, juga isi dari Wala menceritakan kejadian yang didukung dengan berupa bukti tempat-tempat tertentu sebagai penguat kejadian atau sebagai pengingat yang dibawakan dalam Wala tersebut (mnemonic device).

Saat penyajian atau pertunjukan Wala merupakan unsur hiburan yang tak kalah penting, bagaimana penyampaian Wala dengan akselerasi hentakan kaki dan nyanyian yang dituturkan dengan irama yang harmonis sebagai suatu hiburan dengan penghayatan yang didalamnya terkandung pesan nilai dalam teks yang dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan dan menciptakan keseimbangan yang luarbiasa dalam lingkungan sosial orang Matbat.

Mereka yang terlibat atau pelaku dalam pelaksanaan tarian dan nyanyian Wala adalah pemimpin Wala dan pengikut Wala yaitu Ba ut sebagai pembawa atau pemimpin yang mengetahui Wala dengan baik dan penutur utama dalam dansa Wala. Setiap penari Wala juga yang menyanyikan disebut sebagai anak Wala yang terdiri dari pemimpin dan anggota penari Wala, dimana biasanya diikuti baik laki-laki maupun perempuan dewasa, tua, maupun remaja.

Hal ini merupakan bagian penting karena pada saat membawakan Wala, irama yang berasal dari hentakan kaki para penari sangat mendukung keselarasan antara nyanyian dan tarian Wala.

Tarian Wala harus dibawakan ditempat seperti diatas papan atau kulit pohon nibung yang dijadikan sebagai dasar yang dimaksudkan dapat menimbulkan bunyi saat ada hentakan kaki.

Selain tempat, atribut yang digunakan para penari saat menari dan membawakan Wala lebih kepada aksesoris yang mereka gunakan, dengan untuk laki-laki berupa noken, ikat kepala berupa kain, cawat yang terbuat dari kulit kayu dan kain, ikatan tali pada lengan, manik-manik dan gelang-gelang kaki dan tangan dari kulit bia dan gelang besi. Sedang pada perempuan menggunakan kain yang diikat sampai bagian dada (sabutun) dan sisir yang terbuat dari bambu (se kabalam) dengan hiasan daun-daunan.

Selain penutur dan penari, Wala pun dilindungi oleh setan Gamutu. Kelompok penari ini umumnya adalah lelaki dewasa yang menggunakan topeng dari kulit kayu dan ijuk dari pohon enau yang berwarna hitam. Panggilan setan Gamutu ini pun karena ijuk enau hitam yang mereka kenakan. Tugas mereka adalah menjaga para penari Wala saat melakukan tarian Wala dengan menggunakan parang dan jubi yang mereka bawa.

Dihadapan peserta Festival, sebelum memberikan penghargaan kepada ketua adat Matbat, AFU menyampaikan bahwa tari Wala harus terus dijaga dan dilestarikan hingga ke anak cucu sebagai warisan leluhur dan budaya orang Misool.

“Harus kita jaga dan lestarikan sebagai warisan leluhur kepada generasi muda Raja Ampat kedepan,” ujar AFU.

Anda mungkin juga berminat