Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Sosialisasikan Wawasan Kebangsaan di Forum KUB, Sukarno: Pancasila Itu Way of Life

0 104

Aimas, TN – Pertemuan rutin Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) yang dilaksanakan di sektetariat FKUB pada Sabtu (12/10/2019), diselingi dengan penyampaian wawasan kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Kegiatan ini di inisiasi oleh Sukarno, seorang aktivis yang konsen terhadap penguatan nilai-nilai Pancasila, Kebhinekaan dan UUD 1945. Dalam kesempatan itu, Sukarno menyampaikan pentingnya masyarakat memahami arti kesaktian Pancasila. “Dimana letak kesaktian Pancasila?, mungkin bapak ibu masih ada yang belum memahami. Di sini saya akan sedikit berbagi pengetahuan ini,” kata Sukarno, mengawali sosialisasi.

Sukarno menjelaskan makna dari Kesaktian Pancasila, sambil memegang gambar Bendera Merah Putih, Burung Garuda serta Teks Pembukaan UUD 1945 sebagai alat peraga. Yang pertama Sukarno menterjemahkan arti warna merah putih sebagai bendera NKRI, dari sudut pandangan kehidupan manusia.

“Merah itu sebagai perwujudan warna darah. Ketika manusia dilahirkan dimana saja mereka makan dari tumbuh tumbuhan dan minum dari air sekitar manusia terlahir seketika akan menjadi darah merah yang mengalir dalam tubuh manusia. Sedangkan Putih perwujudan dari oksigen atau udara. Ketika manusia terlahir dan menghirup oksigen yang dihasilkan oleh tumbuh tumbuhan, maka itu  akan menguatkan tulang belulang raganya dan menyehatkan tubuhnya,” urai Sukarno.

Menurutnya, esensi atau makna hakiki dari Bendera Merah Putih adalah sumpah manusia terhadap bumi pertiwi atau tumpah darahnya. “Sehingga kita sebagai warga negara Indonesia mempunyai kewajiban untuk mempertahankan Tanah Air Indonesia dari siapapun yang akan merebutnya,” tandas Sukarno.

Makna Pancasila bagi pribadi manusia menurutnya adalah Way of Life. Tuntunan hidup manusia Indonesia. Seperti yang tergambar pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Kata Sukarno, ini bermakna manusia harus memahami tentang Ketuhanan (beriman), yaitu dengan menjalan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNYA.

Kemudian sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kunci dari semua kehidupan agar bisa damai adalah tergantung dari kualitas hidup manusia. Ketika manusia sudah memahami tentang kehidupan, maka akan berbuat adil dalam menjalani kehidupannya secara beradab (berakhlak mulia).

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Adalah satunya hati dan pikiran manusia. Pikiran adalah tempat merencanakan, menghitung apa yang diinginkan. Kemudian ditanyakan kepada hatinya.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Mengandung makna dalam memenuhi keinginan manusia harus menyatukan antara hati dan pikiran, yang dilandasi oleh hikmat (kebenaran hakiki). “Bentuk inilah yang disebut musyawarah untuk mufakat, sehingga manusia dalam melangkah dengan penuh keyakinan,” tandasnya.

Kemudian sila kelima, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Adalah bentuk kepuasan batin manusia setelah apa yang direncanakan dan diinginkan terkabul.

Dari pemaparan makna Pancasila, Sukarno melanjutkan pemaknaan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, rakyat Indonesia terdiri dari beberapa suku, agama, ras dan golongan. Namun ada satu yang sama, yakni rasa dalam hati.

“Siapapun orangnya, dari suku apa, etnis apa, pasti akan merasakan hati yang senang ketika dipuji, atau kecewa ketika dihina. Itulah kesamaan rasa.

Sukarno (kiri) menyerahkan potongan tumpeng kepada H Sutedjo SPd, Ketua FKUB Kabupaten Sorong saat acara syukuran Hari Kesaktian Pancasila. (Foto:Tantowi/TN)

Sedangkan mengenai makna dari Pembukaan UUD 1945, Sukarno memaknai dari setipa paragraf atau alinea.

Pada alinea satu, setiap manusia harus merdeka yaitu manusia harus mampu menempatkan dirinya pada ruang tanpa tekanan dan tidak menekan yang lain.

Pada alinea kedua, untuk bisa memerdekakan dirinya dari beban hidup, manusia harus bergerak dan berjuang untuk menemukan jalan hidup yang sesuai dengan nuraninya.

Pada alinea ketiga, ucapan terima kasih kepada Allah yang Maha Kuasa, bahwa setelah mampu memerdekakan dirinya dan beban hidup.

Pada alinea keempat, setelah manusia merdeka dia akan berjanji untuk melindungi dirinya dan keluarganya. Mensejahterakan, mencerdaskan, dan ikut memelihara ketertiban di dalam rumah tangganya. Untuk menjaga kelangsungan hidup dalam keluarga, makanya dia harus menjalankan Pancasila. **

Anda mungkin juga berminat