Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Serunya Menyaksikan Satwa Liar di Kampung Wisata Malagufuk

0 195

“Hei… itu Kasuarinya keluar !!

“Hei… mundur..mundur.. Jangan terlalu dekat, nanti dia masuk lagi..!

Keriuhan warga ini menarik perhatian para wartawan yang berkerumun menikmati buah durian, bersama Bupati Sorong, Johny Kamuru. Seekor burung Kasuari dengan bulu warna warni di bagian kepala hingga leher, berjalan perlahan untuk mencari makanan.

Melalui kamera ponsel dan SLR, momen itu menjadi obyek bidikan untuk diabadikan. Sejumlah orang berteriak agar menjaga jarak dengan burung Kasuari, agar satwa langka itu terus melangkah ke tengah tanah lapang.

Bercanda dengan satwa yang ada di Kampung Malagufuk.

Momen keluarnya satwa liar seperti inilah, yang menjadi daya tarik para pengunjung di Kampung Wisata Malagufuk, Distrik Makbon. Bukan hanya Kasuari. Tapi satwa khas Tanah Papua seperti Burung Cenderawasih atau Burung Taun-taun yang hidup liar di alam bebas, bisa disaksikan di tempat ini. Tapi hewan-hewan ini hanya keluar dalam jam-jam tertentu.

Benar-benar liar, bukan dipelihara warga. Dan inilah yang menjadi unggulan di obyek wisata alam yang baru saja dirintis. Bupati Sorong, Dr Johny Kamuru SH, MSi mengajak wartawan untuk meresmikan kawasan itu, Selasa (11/2/2020).

Lokasinya diberi nama Eco Village Malagufuk. Untuk menuju tempat ini, dari Kota Sorong dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam menuju arah Distrik Makbon dengan naik mobil.

Setelah melewati tanjakan ekstrim Malaumkarta, tidak jauh dari situ akan ada papan informasi sebagai penanda lokasi. “Selama datang di Kampung Wisata Malagufuk”.

Dari titik ini, pengunjung masih harus berjalan kaki menuju perkampungan yang dimaksud. Jarak tempuhnya sekitar 3,5 kilometer, atau 1,5 sampai 2 jam jalan kaki.

Sepanjang perjalanan, suara burung yang hidup liar di hutan terdengar bersahutan. Aliran sungai dengan airnya yang super bening, banyak melintang dijalan. Ini surga bagi penikmat wisata alam. Pepohonan ukuran jumbo juga masih banyak berjulang, tegak berdiri.

Bupati Johny Kamuru dan rombongan wartawan saat tiba di Kampung Wisata Malagufuk, setelah berjalan kaki sejauh 3,5 kilometer.

Bupati Johny Kamuru pun melepas sepatu, bertelanjang kaki untuk menyusuri jalan menuju Kampung Malagufuk. Langkahnya begitu gesit, menyusul rombongan wartawan yang sudah lebih dulu berjalan.

“Jalan masuk sengaja dibuat seperti ini, alami. Tidak boleh ada kendaraan bermotor yang masuk, agar tidak mengganggu ekosistem satwa,” kata Johny Kamuru.

Mendekati titik lokasi, sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pembangunan jembatan kayu. Infrastruktur ini pula yang akan dibangun hingga di ujung jalan masuk, sehingga memudahkan para pengunjung yang datang.

Pengembangan wisata di Kampung Malagufuk, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong oleh Pemerintah Kabupaten Sorong ini terus dilakukan. Di dalam kampung, saat ini sudah dibangun dua unit villa, tempat menginap yang bisa disewa oleh wisatawan.

Bupati Sorong Johny Kamuru menyebut, pembangunan eco village tersebut diperuntukkan bagi masyarakat di Kampung Malagufuk yang nantinya akan mengelola sendiri lokasi wisata yang saat ini sedang ramai dikunjungi wisatawan asing.

“Kami cuma membantu membangun infrastruktur untuk tempat tinggal para turis, tapi nantinya yang kelola ini tetap masyarakat,” jelasnya.

Sudah ada dua orang guide atau pemandu wisata dari warga setempat yang siap mendampingi. Pihak pengelola pun telah bergandeng tangan dengan sejumlah travel agen, untuk memasarkan obyek wisata ini. Meski belum sepenuhnya tuntas dibenahi, tidak sedikit travel agen yang sudah menerima pesanan dari wisatawan.

Penikmat plesiran yang berkunjung ke Kampung Malagufuk ini, lebih banyak turis asing. Selain untuk menikmati alam juga melakukan penelitian di lokasi yang terkenal dengan hewan-hewan langka khas Papua, seperti Burung Cendrawasih, Burung Taun-taun, Burung Kasuari Gelambir dan lain-lain. “Sudah banyak turis asing yang mendaftar untuk berkunjung disini,” katanya.

Selain Eco Village yang dibangun pemerintah, akses jalan menuju eco village juga turut diperhatikan dengan pembangunan jalan setapak menggunakan papan kayu yang berjarak 3,5 Km. Tahun ini dibangun sepanjang 1.2 Km dan rencananya akan dibangun kembali tahun depan hingga mata jalan.

Proyek ini digarap oleh CV Puarani. Konsep yang dikembangkan, kata Rudi Rapang, sang kontraktor, perpaduan antara kearifan lokal dengan arsitektur modern.

Dua unit villa yang sudah selesai dibangun, menjadi fasilias menginap bagi para turis yang datang.

“Kita memperhatikan sustainibility dari tempat ini. Ada hutan ada burung dan segala ekosistemnya. Konsep yang kita bangun berdampingan dengan alam dan kearifan lokal yang ada. Villa ini kita bangun pakai kayu, atapnya daun sagu, tapi dengan konsep design yang modern, sesuai dengan kebutuhan turis yang datang,” urai Rudi.

Sumber energi penerangan pun ramah lingkungan, Solar Cell, dengan tata cahaya di waktu malam diatur agar tidak terlalu terang.

“Ini agar tidak mengganggu habitat yang ada. Sementara untuk kebutuhan air minum dan lainnya, kita ambil dari mata air yang kita proses sehingga bisa langsung minum. Ini agar turis yang datang tidak perlu bawa botol plastik,” tambahnya.

Untuk menjaga kelestarian alam di dalam hutan, Bupati Sorong berencana untuk membuat peraturan daerah (perda), agar masyarakat setempat bisa bersama-sama menjaga kondisi di Kampung Malagufuk. “Pastinya masyarakat akan lebih menjaga tempat ini,” katanya.

Status Kampung Malagufuk yang merupakan kampung persiapan. Perhatian yang juga diberikan Bupati, akan memperjuangkan status kampung itu ke Gubernur dan Kemendagri, agar segera disahkan menjadi kampung definitif.

Anda mungkin juga berminat