Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Sejumlah Wartawan Merauke Tinjau Langsung Ternak Ayam Milik PT. Harvest Pulus

0 1.403

Merauke, TN – Guna melihat kondisi rill di lapangan, sejumlah wartawan Merauke mendatangi langsung ternak ayam petelur milik PT. Harvest Pulus di daerah Semangga, Distrik Semangga Merauke, Sabtu (11/01).

Hal ini sebagai tindaklanjut dari keluhan warga Semangga yang merasa terganggu dengan limbah ternak yang dirasakan setiap hari, sebagaimana telah dibahas di Ruang Sidang DPRD Merauke, Kamis (09/01).

Tujuh wartawan dari media, online, televisi, koran dan RRI pun melihat langsung di bagian yang dianggap menghasilkan bau. Baik tempat dimana ayam berada yang dalam kondisi steril tertutup rapi, lalu saluran kotoran yang juga melalui proses yang sudah sesuai standar memakai scrubber atau tombol otomatis yang akan mendorong kotoran ayam ke penampungan.

Di ujung pipa pembuangan terdapat kipas yang selalu aktif untuk memproses pengeringan. Sementara pada wadah penampung petugas selalu siaga untuk langsung menaburkan dolimite (kapur), dicampur dengan cairan EM4 dan arang sekam.

Sehingga, baik dari kejauhan maupun dekat tidak terhirup bau yang menyengat sebagaimana komentar warga. Hanya sedikit tercium bau kotoran saat kita berada di dekat penampungan kotoran yang sementara diproses fermentasi tapi baunya masih standar.

“Jadi setelah kotoran di dorong melalui pipa pembungan, kita taruh dolmite, serbuk sekam lalu kita aduk pake EM4. Setelah itu, kita isi di karung dan dibawa ke tempat pembuangan yang jaraknya sekitar 2 KM dari peternakan dan ditutup lagi pakai terpal agar tidak mengganggu lingkungan” jelas Bagian Divisi Limbah, Sugimin.

Kata dia, setelah difermentasi selama 21-30 hari atau tiga sampai empat minggu kotoran akan menjadi organik yang bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai pupuk dan tidak menghasilkan bau menyengat.

Ia mengakui pada pertengahan 2019 lalu sempat pihaknya kehabisan dolomite sebagai penetral, tidak lama setelah itu bahan penetral didatangkan dan tidak ada masalah.

“Masyarakat petani selalu mengambil kotoran yang sudah difermentasi dengan gratis,” tambah Sugimin kepada wartawan di areal ternak.

Nampak suasana sekeliling ternak cukup kering bahkan pekerja maupun orang yang datang dari luar yang akan masuk ke dalam harus melalui proses sterilisasi.

“Tujuannya, agar tidak membawa penyakit yang menggangu kesehatan ayam,” jelas Kepala Bagian Pemasaran PT. Harvest Pulus Papua, David pada kesempatan yang sama.

Ia mengatakan, PT.Harvest Pulus memiliki sertifikat kontrol veterine unit usaha pangan asal hewan (NKV) yang merupakan salah satu jaminan untuk penyediaan produk asal hewan yang ASUH. Sertifikasi ini merupakan kegiatan penilaian pemenuhan persyaratan kelayakan dasar sistem jaminan keamanan pangan dalam aspek higiene-sanitasi pada unit usaha pangan asal hewan yang diterbitkan oleh instansi berwenang.

Survaillans NKV dilaksanakan rutin setiap tahun dan untuk tahun 2019 survaillans telah dilakukan oleh Tim yang terdiri dan Tim Provinsi dan Kabupaten menyataan bahwa Sertifikat NKV dengan tevel 1 PT Harvest Pulus tetap bisa digunakan dengan ketentuan tetap mempertahankan biosekurity, sistem budidaya dengan mengaplikasikan faktor higiene sanitasi, menjaga kesehatan hewan serta kesejahteraan hewan dan pengelolaan limbah yang baik sehingga dapat menghaslkan keseimbangan lingkungan yang sehat dan kualitas produk yang aman untuk dikonsumsi masyarakat.

Rekomendasi teknis telah disampaikan kepada PT. Harvest Pulus Papua tertanggal 01 November 2019 dan telah dilaksanakan survey atas rekomendasi dimaksud pada tanggal 9 Desember 2019 dimana hasil survey tersebut menyatakan bahwa PT. Harvest Pulus Papua telah melaksanakan semua rekomendasi teknis dengan baik dan wajib mempertahankan pelaksanaan rekomendasi teknis yang telah disampaikan oleh Dinas.

SPPL (Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan) yang merupakan kesanggupan dari penanggungjawb usaha untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup atas dampak lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatannya di luar usaha dan atau kegiatan yang wajib MDAL dan UKL-UPL telah dimiliki oleh PT Harvest Pulus Papua dan telah dilakukan berbagai perbaikan dalam memperbaiki pengelolan limbah dan langkah- langkah untuk meminimalisir bau dari budidaya ternak ayam seperti penggunaan EM4, sekam, dolomite dan pengaturan pemanfaatan limbah kotoran.

Hasil pantauan wartawan, selain pendatang, ada juga warga lokal asli Papua yang dipekerjakan di sana untuk menangani 30.000 ekor ayam.

Pihaknya tetap mengikuti aturan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Termasuk mengurus NIB dan saat ini masih dalam proses SIU (Surat Ijin Usaha) yang sebelumnya sudah ada Surat Ijin Gangguan (SIG).

Besar harapannya, Anggota DPRD Merauke dan instansi terkait akan meninjau langsung di lokasi peternakan guna melihat kondisi yang sesungguhnya. Lalu mencari sumber bau yang sesungguhnya datang dari mana.

Anda mungkin juga berminat