Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Pustu Mariat Gunung Rusak dan Tak Ada Mantri, Kepala Dinas Kesehatan Tak Berkutik

0 284

Aimas, TN – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong mengaku sudah mengetahui kondisi bangunan Puskesmas Pembantu Mariat Gunung yang rusak parah, dan tidak adanya tenaga medis yang melayani masyarakat setempat.

Tetapi sebagai orang nomor satu di Dinas Kesehatan, dia tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan pembenahan fasilitas kesehatan untuk masyarakat itu, karena bukan domainnya. “Itu adalah kewenangan dari Puskesmas Mawalili sebagai induk dari Pustu Mariat Gunung,” kata dr. Lidia Kurniawan, Kepala Dinas Kesehatan, Rabu (6/11/2010).

Menjelaskan kondisinya yang tidak berkutik atas kondisi Pustu Mariat Gunung ini, Lidia menghadirkan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dr. Ronney Kalesaran, mantan Kabid Yankes yang kini menjabat Kepala Puskesmas Mariat, Sunarwan SKM. MPH, Staf Ahli Bupati Bidang SDM Dr. Wa Ode Likewati serta Kepala Puskesmas Malawili, Engelina Y. Tanamal, S.Kep.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong, dr. Lidia Kurniawan, didampingi mantan Kabid Yankes Sunarwan, menjelaskan kepada wartawan terkait kondisi Pustu Mariat Gunung. (Foto:Tantowi/TN)

“Supaya bisa mengklarifikasi itu, mengapa saya panggil Kabid Yankes yang lama? karena dulu untuk menyelesaikan masalah ini saya serahkan ke dia. Kami sendiri sudah ke turun ke lokasi. Kalau kami ke Sayosa, ke Maudus, kami selalu singgah ke situ, mendokumentasikan, sebagai bahan evaluasi kepada Kepala Puskesmas yang terkait,” tandasnya.

Baca juga: https://www.teropongnews.com/puskesmas-yang-jauh-diresmikan-yang-didepan-mata-tak-terurus/

Mantan Kabid Yankes Sunarwan menjelaskan, sebenarnya bukan hanya Pustu Mariat Gunung yang bermasalah, tapi juga terjadi di Pustu Beinkete (Makbon), Pustu Malaumkarta, Pustu Maladofok dan Pustu Batupayung.

“Terlepas dari 45 pustu yang ada di Kabupaten Sorong, ke empat pustu itu cukup menjadi concern kami karena posisinya ada di pinggir jalan poros. Tapi secara khusus untuk Pustu Mariat Gunung ini, kami sepakat menjadi catatan prioritas. Ini kan di depan mata,” tandas Sunarwan.

Ia menyampaikan terima kasih kepada media, yang telah mempublikasikan kondisi tersebut. Fungsi kontrol oleh media massa, dijamin dan dilindungi oleh Undang Undang. “Saya kira ini fungsi kontrol yang kemudian membawa kebaikan, agar kemudian bisa menjadi perhatian pihak-pihak terkait. Apalagi Kabupaten Sorong di era kepemimpinan pak bupati ini, kesehatan menjadi salah satu prioritas. Bukan tersirat, tapi tersurat dalam visi misinya,” kata Sunarwan.

“Mudah-mudahan setelah terekspos oleh media begini, bisa mempercepat gerakan Kepala Puskesmas melakukan pembenahan. Kita tidak bermaksud menyalahkan Kepala Puskesmas, karena bagaimanapun puskesmas ini kan UPTD-nya dinas. Sebagai konsekwensi dari tanggungjawab, dinas sudah mengambil peran dalam dalam upaya pembinaan dan pengawasan kebawah,” ujarnya.

Baca juga : https://www.teropongnews.com/kepala-puskesmas-malawili-mantri-pustu-mariat-gunung-datang-setiap-hari/

Terkait kondisi bangunan yang rusak, Sunarwan memberikan solusi kepada Kepala Puskesmas terkait, agar menggunakan dana Kapitasi JKN untuk pembenahan fisik bangunan maupun operasional. “Anggaran Dinas Kesehatan kan sulit, karena pos anggaran sudah ditentukan. Tapi puskesmas memiliki pembiayaan yang cukup fine yang bisa dilakukan. 40 persen dari dana Kapitasi JKN memungkinkan untuk itu,” urai Sunarwan.

Dana kapitasi JKN adalah dana yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan kepada puskesmas sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan bagi peserta JKN. Sumber dana kapitasi berasal dari hasil pengelolaan dan pengembangan dana iuran peserta JKN oleh BPJS Kesehatan.

Lantai Pustu Mariat Gunung yang banyak sampah dan botol bekas obat-obatan.

Sementara terkait problem tenaga kesehatan yang enggan hadir di tempat tugas, kata Sunarwan, Kepala Puskesmas bisa membuat inovasi agar pustu itu menarik dan tenaga kesehatan mau datang bertugas. Kalau memang petugasnya susah untuk ditempatkan secara menetap, maka bisa dibuat rolling.

“Ini adalah solusi yang kami tawarkan ke Kepala Puskesmas, supaya merata. Semua merasa memiliki beban yang sama. Ini kasus yang bukan tidak mungkin tidak bisa diselesaikan. Tergantung komitmennya, mau menyelesaikan atau tidak,” tandasnya.

Jika cara itu kurang jitu, bisa digunakan solusi lain yang lebih menarik. Berikan insentif tambahan kepada tenaga kesehatan di pustu, sesuai tingkat kesulitannya. Cara ini kata Sunarwan, sejak 2 tahun lalu sudah dilakukan Dinas Kesehatan untuk tenaga medis yang ada di puskesmas. Dinas membuat tingkatan sesuai dengan standar dan tingkat kesulitan.

Untuk puskesmas di perkotaan dan pedesaan, masuk kategori ring I. Tenaga kesehatan dengan pendidikan D-III Kesehatan yang bertugas di tempat ini, mendapat insentif sebesar Rp 1.250.000. Sedangkan kan puskesmas kategori terpencil, masuk Ring II dengan insentif yang diberikan sebesar Rp 1.500.000, serta kategori sangat terpencil yang masuk Ring III, insentifnya Rp 1.995.000.

“Dengan cara seperti ini, tempat yang dulunya tidak menarik, menjadi menarik. Dan ini boleh dilakukan. Tapi sekali lagi kami sampaikan, kewenangan dinas hanya sampai di puskesmas. Untuk masalah tenaga kesehatan di pustu, polindes, poskesdes, nota penempatannya ada di Puskesmas. Sudah bukan domain dinas,” tandasnya. **

Anda mungkin juga berminat