Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Prodi Kependetaan UKIP Sorong Bentuk Karakter Calon Pendeta

0 245

Sorong, TN- Sebanyak 70 mahasiswa semester 2 sampai semester 8 dari Fakultas Theologia Universitas Kristen Papua (UKIP) Sorong, dalam mengisi liburan hari raya Idul Fitri 1440 H, melakukan rutinitas pelayanan di jemaat Efata Wilti, Klasis GKI Malamoi Kabupaten Sorong.

Kegiatan yang dilakukan Program Studi (Prodi) Kependetaan Fakultas Theologi Universitas Kristen Papua (UKIP) Sorong sejak 05-09 Juni 2019 ini, bertujuan membentuk karakter dan mental para mahasiswanya, yang nota bene adalah calon Hamba Tuhan atau Pendeta, sekaligus merupakan bentuk pengabdian terhadap masyarakat dan jemaat.

“Yang menjadi dasar kita melakukan kegiatan tersebut, karena mahasiswa inikan adalah calon Pendeta, jadi mereka harus lebih banyak praktek dari pada teori terus menerus di kelas,” ujar Ketua Prodi Kependetaan Fakultas Theologi UKIP Sorong, Pdt. Dr. Thomson Ilias, S.Th, M.Th, Senin (10/6).

“Untuk itu mereka ini harus lebih banyak mendekatkan diri dengan jemaat supaya mereka jadi terbiasa,” lanjutnya.

Pelatihan tari rebana oleh anak remaja di jemaat GKI Efata Wilti.

Menurutnya, untuk menjadi seorang Pendeta, mahasiswa Theologia harus mengenal lokasi pelayanan yang jauh dari perkotaan. Daerah terpencil adalah tempat yang tepat untuk menjadikan seorang calon Hamba Tuhan untuk siap melaksanakan tugasnya sebagai seorang pelayan yang setia dan bertanggungjawab.

Dikatakan, selama 4 hari dalam pelayanan yang dilakukan bersama jemaat GKI Wilti, sejumlah kegiatan seperti seminar pelayanan kepada para pelayan intera, pelatihan alat peraga kepada Guru Sekolah Minggu, serta pelatihan tim rebana untuk anak remaja di jemaat tersebut dilakukan selama berada dengan mereka.

Sementara itu, Dekan Fakultas Theologia UKIP Sorong, Pdt. Reinhard Tanawani, S.Th, M.Th, berharap setelah
dilakukannya kegiatan rutinitas pelayanan kepada 70 mahasiswa tersebut, kedepan mereka akan menjadi hamba Tuhan yang siap melayani di mana saja berada, termasuk di daerah pedalaman sekalipun.

“Harapan kami, anak-anak ini ketika kedepan mereka menjadi pendeta, mereka sudah siap menerima resiko pelayanan, dalam arti tidak menjadi pendeta karena semua serba ada, melainkan ada atau tidak ada, mereka sudah siap,” harap Tanawani.

Anda mungkin juga berminat