Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Pokja Agama MRP Temukan Banyak Masalah Ibu dan Anak Di Merauke

0 70

Merauke, TN – Hari kedua agenda kunjungan kerja Kelompok Kerja (Pokja) Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) di Kabupaten Merauke adalah menjaring informasi dan masukan dari organisasi keagamaan wanita Kristen dan Katolik berkaitan dengan masalah perempuan dan anak serta alokasi dana Otsus untuk keagamaan dan perempuan.

Dalam diskusi yang digelar di Swiss-Belhotel, Sabtu (09/11) tercatat banyak persoalan yang dihadapi oleh organisasi wanita. Diantaranya, pembahasan mengenai alokasi dana Otsus yang belum tepat sasaran atau sesuai peruntukannya.

Di lain pihak, belum ada perhatian berupa pelatihan dan pembinaan secara berkelanjutan bagi generasi gereja, melalui wadah Wanita Katolik RI, seperti yang dikeluhkan salah saru peserta. Dikatakan bahwa muda-mudi gereja asli Papua membutuhkan pelatihan komputer namun tidak difasilitasi dan perhatian pemerintah melalui pihak terkait terutama organisasi WKRI.

“Ada juga hasil dari kerajinan tangan, kreatifitas mama-mama Papua dari sampah plastik yang diolah menjadi sesuatu yang dapat dipasarkan, namun tidak ada sarana yang disiapkan untuk menjadi pusat penjualan seluruh hasil karya mereka,” jelas Pokja Agama MRP Utusan GKI di Tanah Papua, Dorince Mehue, SE di Swiss-Belhotel Merauke.

Selain itu, masalah kekurangan gizi bagi ibu dan anak karena faktor ekonomi juga masih cukup banyak ditemukan berdasarkan laporan salah satu petugas kesehatan yang ikut dalam organisasi gereja.

Untuk itu, diharapkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Dinas Kesehatan agar lebih giat dalam melakukan pendampingan kepada ibu-ibu OAP dalam hal pemenuhan gizi keluarga.

Dikatakan, kondisi ini perlu pemberian makanan tambahan yang disesuaikan dengan usia anak sehingga asupan gizinya dapat terpenuhi. Tidak ketinggalaan, masalah anak aibon juga disuarakan pada kesempatan yang sama. Menurutnya, perlu ada panti khusus untuk merehabilitas anak-anak aibon.

Pemerintah daerah dengan berbagai alokasi dana yang cukup banyak dari pusat, provinsi maupun APBD harus lebih mengarahkan pada kesehatan masyarakat, supaya generasi Papua dipersiapakan menjadi generasi yang sehat dan cerdas.

“Sebagai perempuan asli Papua, saya mengajak kita perempuan Papua asli untuk tetap semangat dan bangkit dari keterpurukan. Perempuan Papua harus bisa berkompetisi, tidak boleh menyerah berjuang mampu bersaing secara positif dengan para pendatang. Mari kita bersama-sama meningkatkan kualitas kita guna kesejahteraan kita, bersama saudara-saudara kita non Papua,” ajaknya lagi.

Lebih lanjut, Dorince mengatakan, menyambut pelaksanaan PON 2020 di Kota Merauke, pemerintah daerah diharapkan merangkul mama-mama, perempuan gereja, dan organisasi wanita Papua untuk ikut mengambil bagian selama kegiatan PON.

Salah satunya, dukungan untuk peningkatan ekonomi melalui potensi yang mereka miliki. Mereka ikut berperan memasarkan hasil karya yang bernilai ekonomis. Baik kuliner, kerajinan tangan atau kreatifitas hasil karya tangan berupa tas, asesoris, anyaman, noken dll yang bisa dijual.

Terkait persiapan PON nanti, dalam waktu dekat sebagai Pokja Agama MRP akan mendatangkan pelatih pembuatan batik tulis ke Merauke untuk memberikan pelatihan kepada wanita gereja maupun organisasi wanita Papua di Merauke.

Batik tersebut dirancang sesuai dengan rancangan kesenian daerah Merauke. Selanjutnya, mama-mama diharapkan dapat menyiapkan ribuan syal yang akan dipakaikan kepada tamu PON yang datang di Bandara atau Pelabuhan.

“Sehingga setiap peserta PON yang baru sampai Ke Kota Merauke disambut dengan pemberian syal bermotif seni dan budaya Merauke. Ini harus didukung pemerintah daerah,” tandasnya.

Di akhir pertemuan itu, Dorince mengatakan, menyangkut dana Otsus dan semua masukan dan saran serta persoalan serius yang dihadapi ibu dan anak maupun organisasi akan didorong ke Gubernur untuk menjadi perhatian.

Anda mungkin juga berminat