Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Pihak Double O Klaim 30 Ekor Satwa Liar Illegal Bukan Milik Mereka

0 652

Sorong,TN- Guna menindak lanjuti operasi penertiban kepemilikan satwa liar illegal yang dilakukan Polda Papua Barat bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat di tempat hiburan malam Double O pada Jumat (5/7) lalu.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Papua Barat bersama Kepala Kantor Karantina Pertanian Kelas I Sorong dan anggota Komisi A DPRD Kota Sorong mendatangi Double O untuk bertemu langsung dengan pihak Owner guna mengkonfirmasi terkait kepemilikan satwa illegal tersebut, Senin (8/7).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat, Basar Manullang, mengatakan berdasarkan hasil identifikasi, beberapa satwa yang terdapat di Double O termasuk jenis satwa liar yang dilindungi Undang-Undang sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri LHK No: 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

“Ada juga beberapa jenis satwa yang tidak dilindungi Undang-Undang dan bahkan ada satwa yang berasal dari luar negeri,” ungkapnya kepada awak media.

Dijelaskannya, satwa yang diamankan dalam kegiatan operasi tersebut sebanyak 30 ekor. Diman sebanyak 9 ekor satwa yang dilindungi, terdiri dari 2 ekor Kakatua Koki (Cacatua Galerita), 2 ekor Kakatua Raja (Probosciger Aterrimus), 2 ekor Nuri Kabare (Psittrichas Fulgidus), 1 ekor Mambruk Ubiiat (Goura Cristata), 1 ekor Kakatua Jambul Kuning (Cacatua Sulphurea), dan 1 ekor anakan Rusa Timor (Rusa Timorensis).

Sedangkan satwa-satwa yang tidak dilindungi sebanyak 21 ekor, terdiri dari 2 ekor Makaw Skarlet, 1 ekor Betet Kelapa Paruh Besar, 4 ekor Iguana, 2 ekor Kucing Anggora, 2 ekor Biawak, 2 ekor Kucing Karakal dan 8 ekor Monyet Mini yang diduga berasal dari Amerika.

Lanjutnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pasal 20 ayat 1 bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi UU dalam keadaan hidup secara sengaja, dengan ancaman pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 Juta.

“Saat ini proses penanganan perkara dilakukan oleh Polres Sorong Kota bersama Balai Besar KSDA Papua Barat, guna penyelesaian kasus ini. Oleh sebab itu, dalam rangka penegakan hukum maka saya mengharapkan pihak Double O bersikap kooperatif selama proses hukum berlangsung,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Karantina Kelas I Sorong, drh. I Wayan Kertanegara, menjelaskan pihaknya sudah melakukan pengawasan ketat baik di Bandara Deo dan di Pelabuhan Sorong dengan melibatkan semua stakeholder yang ada disana.

“Untuk kasus ini, sementara kami masih melakukan koordinasi dengan pihak angkatan laut, kepolisian dan masyarakat pesisir. Ini satwa yang luar biasa dan eksklusif karena banyak didatangkan dari luar negeri. Kemungkinan besar mereka transaksi jual beli satwa ini ditengah laut. Kami akan menelusuri lebih dalam kepemilik dan cari siapa dalangnya,” jelasnya.

Tim kuasa hukum Double O Husni, SH kepada awak media menjelaskan terkait siapa pemilik satwa liar yang diamankan, pihaknya belum bisa membeberkan identitasnya. Namun demikian, Husni menyebutkan inisial sang pemilik 30 ekor satwa tersebut yakni berinisial D.

“Yang memiliki satwa tersebut berinisial D, dan oknum tersebut sama sekali tidak ada hubungan dengan Double o. Dia adalah oknum yang ingin memelihara hewan tersebut, hanya saja locus delicty berada didalam Double O. Dalam management perusahaan, oknum tersebut juga tidak masuk dalam daftar,” tandasnya .

Anda mungkin juga berminat