Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

PERHAPI Malut Pertanyakan Teknis Keselamatan Karyawan Tambang

0 29

Ternate, TN – Tambang nikel di Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah tertimbun tanah longsor, Minggu (10/3) sekitar pukul 03.00 WIT. Tercatat, ada sekitar empat orang karyawan PT. Bakti Pertiwi Nusantara (BPN) yang mengoperasikan tambang ikut tertimbun.

Menyikapi kejadian tersbut, Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Maluku Utara, Ruslan M Umar mempertanyakan teknis keselamatan PT. BPN yang diterapkan kepada karyawannya.

Menurut dia, insiden seperti itu bisa terjadi kapan saja dalam aktivitas pertambangan. Untuk itu, perusahaan wajib menyiapkan faktor safety.

“Safety ini menyangkut pelindungan diri karyawan atau pekerja. Apakah itu sudah diutamakan oleh perusahaan tersebut atau belum. Itu SOP yang harus ada. Sekarang perusahaan itu ada SOP-nya atau tidak, kalau ada dijalankan sesuai prosedur atau tidak. Kalau tidak maka itu berarti fatal,” ujar Ruslan kepada wartawan, di Ternate, Rabu (13/3).

Informasi yang beredar, penanganan keselamatan PT BPN sejauh ini belum mencapai 100 persen. Demikian pula soal geotekniknya, urusan kekuatan tanah dan batuan serta mengukur kemampuannya menahan bangunan yang berdiri di atasnya.

Menurut Ruslan, jika aktivitas pekerjaan di lokasi pertambangan tidak didukung dengan standar prosedur yang jelas, maka aktivitas perusahaan bisa dihentikan dengan alasan menyebabkan kematian dari insiden tanah longsor tersebut.

“Pandangan saya atas insiden itu kalau hal tekniknya diperlukan data konkret semacam data geoteknik. Pekerjaan ini harus menggunakan data sehingga sistem penambangan itu sesuai perencanaan. Saya belum tahu data geoteknik itu lengkap atau tidak. Jadi peristiwa yang menimbulkan korban jiwa ini harus ditelusuri lebih dalam. Terutama soal data geoteknik di wilayah pegunungan tersebut,” tegas Ruslan.

Lebih lanjut dia menduga, insiden tanah longsor tersebut terjadi karena daya dukung tanah sekitar pekerjaan penggarukan tidak kuat, sehingga pada titik-titik tertentu menimbulkan longsoran seperti yang terjadi pada Minggu dini hari tersebut.

“Saya intinya pertanyakan safety-nya dulu. Karena kalau pekerjaan tambang itu terutama safety. Aman baru bisa kerja, kalau tidak aman tidak boleh. Jangan sampai tidak aman tapi dipaksakan kerja, bahaya itu,” tandas Ruslan.

Anda mungkin juga berminat