Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Pengenalan Lingkungan Demi Menjaga Raja Ampat, Perlu Ditularkan Ke Generasi Muda

0 140

Waisai, TN- Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan sebuah perangkat yang efektif untuk menyebarkan ‘virus’ cinta lingkungan, khususnya bagi siswa siswi jenjang sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Dalam upayan tersebut, pihaknya membangun pendekatan pembangunan berbasis konservasi di Raja Ampat.

Sesuai pres rilis yang diterima media ini, dalam upaya kolaboratif mengembangkan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Raja Ampat. Semenjak tahun 2012, PLH diterapkan secara lebih spesifik oleh Yayasan Kalabia Indonesia (YaKIn).

Hal itu, beragam materi disampaikan melalui metode interaktif dan menyenangkan dalam PLH, semula diterapkan secara sistematis oleh organisasi nonprofit oleh Conservation International (CI) Indonesia dan The Nature Conservancy (TNC).

Pendekatan serupa jugalah yang berusaha untuk diwujudkan melalui setiap gelaran Festival Pesona Bahari Raja Ampat.

“Festival Bahari Raja Ampat bertemakan alam. Ini semua demi Konserfasi atau pariwisata berkelanjutan yang tidak akan ada artinya tanpa ada program-program edukasi, butuh perjuangan untuk merawat, menjaga, dan memelihara alam yang indah ini, dan mesti dimulai semenjak anak-anak,” ujar bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati, melalui Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, Yusdi Lamatenggo.

Sebanyak 46 pelajar SMP YPK Alfa Omega dan SMP Negeri 14 Waisai mengunjungi tenda di hadapan panggung utama Pantai Waisai Torang Cinta (WTC) secara antusias mengikuti setiap topik tentang KKP, ekosistem laut, dan bintang laut berduri.

PLH hari pertama dalam Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019 ini digarap secara kolaboratif oleh tutor-tutor dari CI Indonesia, Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat, dan Yayasan Cahaya Anak Papua.

Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019 akan menyelenggarakan PLH hingga tanggal 22 Oktober 2019 bertepatan dengan acara penutupan.

Selain organisasi-organisasi di atas, Dinas Pariwisata Raja Ampat juga menggandeng Fauna & Flora International (FFI) Indonesia, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat, hingga program Bank Sampah dari Dinas Lingkungan Hidup Raja Ampat.

Sofyan Darwis, guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 14 Waisai, mengungkapkan, “Anak-anak mesti mengetahui laut yang ada di Raja Ampat ini. Selain muatan lokal bagi sekolah dasar, pendidikan lingkungan hidup bagi SMP juga perlu agar bisa lebih dalam lagi menjaga lingkungan hidup, contohnya membuang sampah sembarangan saja mereka masih sering,” jelas Sofyan Darwis.

Kebutuhan akan pendidikan lingkungan hidup diberbagai jenjang pendidikan dasar tersebut juga diamini oleh

Sementara, Grasilaria Nabila Omkarsba, siswi kelas IX dari SMP Negeri 14 menyatakan, betapa perlunya PLH dimasukan ke dalam kurikulum melalui mata pelajaran Muatan Lokal, “Jujur saja, saya terakhir mengikuti PLH pada tahun 2015,” tutur Grasilaria Omkasba.

Valend Burdam, Koordinator KKP Kepulauan Ayau-Asia dari BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat sekaligus salah satu tutor PLH hari ini, menekankan bahwa PLH mesti tetap ada di sekolah-sekolah, mengingat manfaatnya yang cukup besar untuk membina sebuah generasi: terutama dalam merubah sikap dan perilaku mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Disamping itu, Raja Ampat Senior Officer Outreach dari CI Indonesia,, Bertha Matatar, bersepakat bahwa memang ada yang mesti meneruskan PLH ini.

“Semakin banyak mitra dan Lembaga yang menyelenggarakan program edukasi seperti ini akan semakin bagus: tidak hanya satu lembaga saja,” seraya menambahkan, akan jauh lebih bagus jika Pendidikan Lingkungan Hidup juga turut masuk dalam kurikulum di sekolah, 0karena lembaga seperti LSM kan tidak akan selamanya berada di sini.

Anda mungkin juga berminat