Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Optimalkan Program Berkelanjutan, Kepiting Kenari Di Raja Ampat Wajib Dilindungi

0 140

Waisai, TN – Masyarakat kampung Pam, Saukabu dan Saupapir resmi membentuk masing-masing satu Kelompok Tani Hutan (KTH) yang diprioritaskan untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan spesies Ketam Kenari (Kepiting) yang secara umum sering diperjualbelikan didaerah kepulauan Fam dan sekitarnya.

Sebagaimana diketahui, ketam kenari merupakan salah satu fauna yang dilindungi sekaligus digemari sebagai makanan karena rasanya yang unik.

Perkembangan industri pariwisata di Raja Ampat di satu sisi menghadirkan peluang yang tampaknya tak terbatas bagi masyarakat, namun di sisi lain jika tidak dikelola dengan baik maka keanekaragaman sumber daya alam hayati Raja Ampat akan tergerus dan hilang dikemudian hari.

Pada tanggal 31 Oktober hingga 02 November 2019, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat bersama-sama Badan Layanan Umum Daerah Unit Pengelola Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat dan Conservation International (CI) Indonesia menindaklanjuti pertemuan di bulan Maret 2019 tersebut dengan menyelenggarakan focus group discussion (FGD) mengenai pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) dan lokasi pelestarian Ketam Kenari di Kepulauan Fam.

Kampung Pam bersepakat untuk membentuk KTH, dengan sebanyak 17 peserta menyatakan dirinya bersedia untuk menjadi pengurus dalam kelompok yang sepakat dinamai Sasewar Kayam, atau “Berusaha Bersama” dalam Bahasa Biak.

Kemudian di Kampung Saukabu menyepakati pembentukan KTH bernama Sasewar Kobeoser (Kebersamaan). Lalu 17 warga Kampung Saupapir bersepakat untuk menentukan nama KTH selambat-lambatnya pada 09 November 2019. Masyarakat di tiga kampung ini juga menyepakati bahwa pengelolaan dan pemanfaatan ketam kenari melalui KTH adalah dalam konteks pariwisata berkelanjutan.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Papua Barat, Tasliman, SP., MP., memaparkan bahwa dalam konteks Ketam Kenari, terdapat tiga fungsi konservasi, yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan. Ia memahami bahwa Ketam Kenari telah menjadi fauna yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat Kepulauan Fam, salah satunya adalah diperjualbelikan di lokasi objek wisata topview Piyainemo. Menurutnya, hal ini dapat ditekan secara bertahap agar Ketam Kenari nantinya dapat lestari dan terus ada. Olehnya KTH dibentuk di 3 kampung Kepulauan Fam ini.

“Kami dari BBKSDA lebih menekankan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari, agar pemanfaatan ketam kenari terus ada dan tidak merugikan masyarakat,” ungkapnya.

Selain FGD, tiga lembaga penyelenggara kegiatan tersebut juga mulai menyelenggarakan survei populasi ketam kenari di dua lokasi yang diusulkan oleh masyarakat di Kepulauan Fam. Dijelaskan Bird’s Head Seascape Tourism & Capacity Building Manager dari CI Indonesia, Meidiarti Kasmidi, bahwa hal ini sebagai informasi dasar dalam rencana jangka panjang pemanfaatan Ketam Kenari secara berkelanjutan. Karena dengan data populasi tersebut, pertumbuhan Ketam Kenari nantinya dapat dipantau secara mandiri oleh masyarakat Kepulauan Fam.

“Pengambilan data populasi Ketam Kenari ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk mewujudkan pemanfaatan ketam kenari di Kepulauan Fam yang bertanggungjawab dan bersesuaian dengan aturan-aturan yang berlaku,” papar Meidiarti Kasmidi.

Masyarakat Kepulauan Fam memang sedang berbenah. Upaya kolektif tersebut diganjar dengan keberhasilan Piaynemo dalam memenangkan penghargaan Green-Gold dalam ajang Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2019. Setelah penghargaan tersebut, Kepulauan Fam juga dinilai berhasil sebagai salah tuan rumah dalam rangkaian acara pada Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019.

Anda mungkin juga berminat