Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Objek Wisata Kali Biru dan Sejarahnya Menggerakan Ekonomi Warga Setempat

0 342

Waisai, TN- Keindahan destinasi panorama alam Raja Ampat tidak habis-habisnya. Salah satunya objek wisata yang belum terlalu lama diexplor dan sudah terkenal dikalangan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Raja Ampat tidak hanya memanjakan wusatawan dengan keindahan panorama bawa lautnya, dengan warna-warni terumbu karang yang memanjakan mata. Namun Raja Ampat menyimpan sejuta keindahan alam di dalam hutan.

Kali Biru, lokasinya tepat berada di kampung Warsambin distrik Teluk Mayalibit. Untuk sampai di objek wisata tersebut, wisatawan bisa menlalui jalan darat ataupun laut dengan maksimal tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Kali Biru, masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan nama ‘Waiyal’ (Wai berarti air dan Yal artinya, mengetahui apa yang terjadi besok).

Menurut hikayat masyarakat kampung Warsambin, dahulu sungai tersebut, dipakai orang tua-tua dulu untuk memandikan prajurit sebelum berperang. Ritual itu dilakukan dengan cara berendam pada malam hari.

“Dahulu menurut keoercayaan masyarakat setempat, prajurit dikatakan siap berperang apabila yang bersangkutan tidak merasa kedinginan usai berendam di sungai Waiyal (Kali Biru) itu, namun jika ada yang kedinginan itu tandanya prajurit itu belum siap masuk medan perang dan tidak diizinkan,” tutur slah seorang guid lokal kepada wisatawan sebelum menuju lokasi Kali Biru, Jumat (19/10).

Sejarah singkat tentang Kali Biru itu, sedikit membuat wisatawan yang berkunjung di objek wisata tersebut, sedikit memahami, bahwa ternyata bukan hanya Kali Birunya yang mempesona, tapi sejarah jaman dahulu dari Kali itu menarik untuk simak oleh wisatawan.

PESONA KALI BIRU TINGKATKAN EKONOMI WARGA SETEMPAT

Setelah tiba dengan longboat di lokasi wisata Kali Biru, wisatawan harus turun dan berjalan kurang lebih satu kilo meter untuk sampai ke Kali Biru.

Yoel Wanma warga kampung Wrsambin, penjual kelapa muda di lokasi wisata Kali Biru. Foto/ Wim.

Dalam perjalanan sekitar dua ratus meter, tak disangka ternyata ada warga kamoung Warsambin yang menjual kelapa muda. Bersama dengan dengan isteri dan orang tuanya, Yoel Wanma, ketika ditanya soal pendapatannya perhari dengan menjual kelapa muda, yang bersangkutan tidak merincinya secara pasti, namun ia mengaku keuntungan tergantung wisatawan yang berkunjung.

“Saya baru sekitar dua bulan jual kelapa muda di lokasi wisata Kali Biru ini, soal pendapatan setiap hari, itu tergantung tamu (wisatawan) yang berkunjung,” jelasnya.

Di lokasi wisata Kali Biru, tidak ditumbuhi pohon kelapa, namun kelapa yang dijual oleh Yoel Wanma, ternyata diambil dari kampung Warsambin menggunakan longboat.

Artinya dengan adanya usaha penjualan kelapa muda di lokasi wisata oleh warga kampung Warsambin, itu tandanya pertumbuhan ekonomi masyarakat, mulai berdampak dengan adanya objek wisata Kali Biru yang.

Bukan hanya itu, guide-guid lokal atau pemandu wisata asal kampung Warsambin juga sudah mulai diberdayakan, dengan demikian kedepan objek wisata Kali Biru sudah lagi di temani guide dari luar.

MAJUNYA EKONOMI WARGA, TUJUAN G-TOUR BY ETNIK JOURNEY TREVEL

Munculnya usaha ekonomi masyarakat lewat pertumbuhan pariwisata di kabupaten Raja Ampat, merupakan tujuan utama G-tour by Etnic Journey and travel sebagai salah satu sponsor dalam kegiatan Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019.

Melalui momen tersebut, pihaknya memacu masyarakat untuk tinggal diam, manfaatkan situasi di lokasi objek wisata sebagai peningkatan ekonomi keluarga. Dengan cara apa ? Dengan cara menjual hasil bumi atau kerajianan tangan khas Raja Ampat.

Tidak hanya itu, lewat Festival Pesona Bahari ini, masyarakat diharapkan menangkap peluang guna pengembangan ekonomi keluarga, sekaligus untuk menuambut hadirnya Indonesia Wonderful tahun 2020 mendatang.

Anda mungkin juga berminat