Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

NGO dan Warga Bisa Menjadi Ambassador untuk Perkecil Konflik di Hulu Migas

0 114

Aimas, TN – Keberadaan penyuluh (ambassador) hulu migas yang direkrut dari masyarakat lokal, diyakini mampu menjadi jembatan komunikasi yang akan mengeliminir munculnya konflik hak ulayat antara perusahaan migas dengan penduduk. Ikatan emosional karakterikstik dan budaya, bisa menjadi modal penting dalam mengedukasi masyarakat.

Hal ini disampaikan David Samson, Field Operation Supervisor MontD’Or Salawati Limited, salah satu perusahaan migas yang mengeksplorasi minyak di Salawati, Kabupaten Sorong. MontD’Or Salawati Ltd adalah salah satu perusahaan migas yang berdiri berdasarkan ketetapan hukum dari British Virginia Island (BVI). Salah satu perusahaan anggota Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ini, melakukan pengeboran di sumur Lapangan Balladewa dengan produksi sebanyak 70-80 barel per hari (BOPD).

“Meskipun di internal perusahaan kami sudah mempunyai Humas, tapi keberadaan ambassador ini bagi kami adalah ujung tombak di masyarakat. Kita sama-sama optimis bahwa dengan adanya ambassador ini, betul-betul bisa mencapai target sesuai yang kita harapkan. Mereka inilah jembatan komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat,” kata David, usai berbicara dalam Seminar bertajuk Mengenal Potensi Alam Kita yang diinisiasi Yayasan Kitong Bisa, di gedung Aquarius Aimas, Kabupaten Sorong, Senin (23/9/2019).

Seminar Yayasan Kitong Bisa, melibatkan kalangan muda fresh graduate yang mayoritas anak-anak papua, dan tinggal di area ring 1 perusahaan migas di Distrik Klamono, Salawati Tengah dan Seget. Puluhan peserta calon penyuluh Migas ini mendapatkan pencerahan pentingnya membangun skill dan berpikir kreatif, dari Yayasan Kitong Bisa dibawah komando Billy G Mambrasar.

David Samson. (Foto:Tantowi/TN)

Sementara kembali disampaikan David, sebelum terjun ke lapangan, calon penyuluh ini harus mendapatkan bimbingan dengan formula yang tepat, agar tidak salah sasaran dalam berkomunikasi dan menyampaikan pesan perusahaan ke penduduk. Menurut David, munculnya konflik di hulu migas terkait lahan di area eksplorasi, banyak dipicu karena disinformasi.

“Ketika muncul hal-hal seperti ini, diharapkan calon-calon ambassador bisa berdiri di tengah-tengah. Meskipun tidak bisa terlibat maksimal 100 persen seperti yang kita harapkan, tapi paling tidak keberadaan mereka bisa memberi arti dalam penyelesaikan konflik,” kata David.

Peran penyuluh untuk mengedukasi masyarakat ini bukan hanya bisa dilakukan oleh warga sekitar yang sudah ditunjuk sebagai ambassador, melainkan juga dapat dilakukan Non Goverment Organization (NGO) atau LSM. “Semuanya sangat bisa untuk berperan sebagai jembatan komunikasi, agar konflik di hulu migas bisa diminimalisir,” tandasnya.

Anda mungkin juga berminat