Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

NGO dan Pemuda Papua Bisa Menjadi Ambassador untuk Perkecil Konflik di Hulu Migas

0 175

Aimas, TN – Keberadaan penyuluh (ambassador) hulu migas yang direkrut dari masyarakat lokal, diyakini mampu menjadi jembatan komunikasi yang akan mengeliminir munculnya konflik hak ulayat antara perusahaan migas dengan penduduk. Ikatan emosional, karakterikstik dan budaya, bisa menjadi modal penting dalam mengedukasi masyarakat.

Hal ini disampaikan David Samson, Field Operation Supervisor MontD’Or Salawati Limited, salah satu perusahaan migas yang mengeksplorasi minyak di Salawati, Kabupaten Sorong. MontD’Or Salawati Ltd adalah salah satu perusahaan migas yang berdiri berdasarkan ketetapan hukum dari British Virginia Island (BVI). Salah satu perusahaan anggota Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ini, melakukan pengeboran di sumur Lapangan Balladewa dengan produksi sebanyak 70-80 barel per hari (BOPD).

David Samson. (Foto:Tantowi/TN)

“Meskipun di internal perusahaan kami sudah mempunyai Humas, tapi keberadaan ambassador ini bagi kami adalah ujung tombak di masyarakat. Kita sama-sama optimis bahwa dengan adanya ambassador ini, betul-betul bisa mencapai target sesuai yang kita harapkan. Mereka inilah jembatan komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat,” kata David, usai berbicara dalam Seminar bertajuk Mengenal Potensi Alam Kita yang diinisiasi Yayasan Kitong Bisa, di gedung Aquarius Aimas, Kabupaten Sorong, Senin (23/9/2019).

Seminar Yayasan Kitong Bisa, melibatkan kalangan muda fresh graduate yang mayoritas anak-anak Papua, dan tinggal di area ring 1 perusahaan migas di Distrik Klamono, Salawati Tengah dan Seget. Puluhan peserta calon penyuluh Migas ini mendapatkan pencerahan pentingnya membangun skill dan berpikir kreatif, dari Yayasan Kitong Bisa dibawah komando Billy G Mambrasar.

Sementara kembali disampaikan David, sebelum terjun ke lapangan, calon penyuluh ini harus mendapatkan bimbingan dengan formula yang tepat, agar tidak salah sasaran dalam berkomunikasi dan menyampaikan pesan perusahaan ke penduduk. Menurut David, munculnya konflik di hulu migas terkait lahan di area eksplorasi, banyak dipicu karena disinformasi.

“Ketika muncul hal-hal seperti ini, diharapkan calon-calon ambassador bisa berdiri di tengah-tengah. Meskipun tidak bisa terlibat maksimal 100 persen seperti yang kita harapkan, tapi paling tidak keberadaan mereka bisa memberi arti dalam penyelesaikan konflik,” kata David.

Peran penyuluh untuk mengedukasi masyarakat ini bukan hanya bisa dilakukan oleh warga sekitar yang sudah ditunjuk sebagai ambassador, melainkan juga dapat dilakukan nongovernmental organization (NGO) atau LSM. “Semuanya sangat bisa untuk berperan sebagai jembatan komunikasi, agar konflik di hulu migas bisa diminimalisir,” tandasnya.

Pernyataan senada disampaikan Galih W Agusetiawan, Kepala Departemen Humas SKK Migas Perwakilan Pamalu. Edukasi seputar kegiatan hulu migas kepada generasi muda Papua yang tinggal di area ring 1 ini, setidaknya sebagai investasi jangka panjang dalam hal pengetahuan tata kelola migas.

Makanya, SKK Migas memberikan apresiasi kepada Yayasan Kitong Bisa yang telah menginisiasi kegiatan untuk pengenalan sumber daya alam kepada generasi muda Papua, dan cara-cara pengelolaannya. Sebab, menurut Galih, potensi sumber daya manusia dan potensi sumber daya alam harus berimbang agar bisa menjadi optimal dalam pemanfaatan kekayaan alamnya. Dengan edukasi seperti ini, diharapkan masyarakat lebih terbuka dalam memahami potensi sumber daya alam dan cara pengelolaannya.

“Ini adalah bagian dari proses penyadaran, bahwa sebesar apapun kekayaan alam yang dimiliki, kalau tidak bisa tereksplorasi tidak akan ada artinya. Ibaratnya, kalau kita punya uang 100 miliar di bank, tapi tidak bisa diambil, apakah kita disebut kaya?. Kelihatannya memang kaya, tapi faktanya kita tidak bisa ngapa-ngapain dengan uang itu,” tandasnya.

Galih W Agusetiawan, Kepala Departemen Humas SKK Migas Perwakilan Pamalu saat menyampaikan materi tata kelola migas kepada anak-anak Papua. (Foto:Tantowi/TN)

Bagaimana agar potensi itu bisa berubah wujud menjadi kekayaan yang nyata? kata Galih, permudah dulu proses eksplorasi di sektor hulu. Selama ini banyak faktor yang menjadi penghambat aktivitas perusahaan penambang migas ketika mau memulai aktivitas eksplorasi. Jika kondisi ini terus dibiarkan berlangsung, tidak tertutup kemungkinan aktivitas produksi migas di Papua dan Papua Barat akan berhenti ketika cadangan minyak di sumur-sumur yang sudah dieksplorasi, sudah habis.

“Kalau kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru dihambat, otomatis tidak bisa ada kegiatan lagi. Aktivitas produksi akan terhenti, padahal potensi belum sepenuhnya tergali,” kata Galih.

Billy G Mambrasar, Founder & CEO Yayasan Kitong Bisa menambahkan, dengan memberi pemahaman generasi muda Papua melalui kegiatan seminar, diharapkan ada peran mereka terhadap pengelolaan industri migas, membantu pemerintah maupun perusahaan untuk pengelolaan sumber daya alam ini sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dalam berbagai bidang.

“Keberadaan perusahaan migas sebisa mungkin dimanfaatkan untuk peningkatan kemakmuran rakyat, melalui ide-ide kewirausahaan yang kreatif,” tandas Billy. **

Anda mungkin juga berminat