Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Minim Pendampingan, Kelompok Mina Papua Sering Gagal Panen

0 90

Aimas, TN –  Petani budidaya ikan air payau yang tergabung dalam Kelompok Tani Mina Papua di Kelurahan Malasom, Distrik Aimas,  mengeluhkan minimnya pendampingan dari instansi terkait untuk meningkatkan hasil produksi. Dari 12 orang anggota kelompok, selama ini hanya 3 orang petani yang bisa menikmati hasil panen, meski kurang maksimal.

Menurut Nico Syafle, salah seorang anggota kelompok, kondisi tersebut disebabkan masih lemahnya pengetahuan dan pengalaman sebagian besar anggota kelompok tentang bagaimana cara pengelola tambak atau kolam untuk ikan air payau. Sementara pendampingan melalui petugas penyuluh lapangan dari instansi terkait, jarang dilakukan.

”Yang bisa panen itu hanya milik saya, kemudian milik David Blesia dan satu lagi milik anggota kelompok. Di luar itu, semuanya hancur tidak bisa panen,” kata Nico, Sabtu (3/8)

Sekali panen, rata-rata bisa menghasilkan ikan nila antara 3,5 hingga 4 ton. Di kawasan tanaman bakau itu, rata-rata ukuran tambak yang dijadikan tempat budidaya adalah 25 meter x 100 meter dengan kapasitas populasi benih sebanyak 10.000 ekor ikan. Menurut Niko, dengan kapasitas tersebut, biasanya para petani mendapatkan bantuan benih ikan nila dari Dinas Perikanan Kabupaten Sorong sebanyak 7500 ekor. Sisanya, petani membeli sendiri dari pembudidaya benih.

Masih menurut Nico, bantuan benih itu kemudian di ikuti dengan  pemberian bantuan pakan sebanyak 2 kali, dari Dinas Perikanan Kabsor dan dari Provinsi. “Tapi ya tidak tentu. Kalau dari provinsi ada, ya dapat, kalau tidak ada yang hanya bantuan dari Kabupaten,” kata Nico.

Pernyataan itu dibenarkan Amus Sefle, anggota kelompok Mina Papua lainnya. Untuk jumlah bantuan, katanya, Mina Papua mendapatkan 100 zak yang diserahkan melalui Ketua Kelompok. Oleh Ketua Kelompok yang saat ini dipegang Yeskiel Sefle, bantuan itu baru di distribusikan ke anggotanya. Pembagian inilah yang juga dikeluhkan anggota Mina Papua, karena tidak sesuainya dengan kepemilikan kolam dan populasi.

“Hanya hanya dapat 3 karung. Padahal yang lain bisa menerima antara 6 sampai 15 zak pakan. Luasnya tambak sama dengan saya punya,” kata Amus.

Yeskiel yang menjadi Ketua Kelompok, kata Nico, juga mendapat jatah bantuan itu. Bahkan, diduga jatahnya lebih banyak dari yang diserahkan ke anggota. Karena kolamnya tidak produktif, bantuan pakan itu kemudian dijual ke toko pertanian di sekitar pasar sore, Aimas Unit 2. “Saya tidak tahu dijual berapa per zaknya,” kata Nico.

Yeskiel belum berhasil dikonfirmasi terkait distribusi bantuan pakan untuk kelompok Mina Papua ini. Sebab, sehari-hari menjabat sebagai Kepala Kampung di Kabupaten Sorong Selatan. “Jarang sekali turun. Makanya untuk pendampingan dan pembinaan terhadapanggota kelompok, sangat kurang sekali,” kata Nico.

Anda mungkin juga berminat