Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Lazarus Osok, Orang Moi Yang Piawai Mengelola Aset untuk Masa Depan Keluarga

0 234

“SAYA tidak merokok, juga tidak minum minuman keras. Saya tidak suka hal yang aneh-aneh,” kata Lazarus Osok, Kepala Bidang Aset Badan Pengelola Keuangan dan Aset daerah (BPKAD) Kabupaten Sorong. Sebagai tuan tanah yang memiliki 11 ribu hektare lahan, gaya hidup itu yang hingga kini masih setia dijalaninya.

Stigma yang selama ini muncul, tidak sedikit orang Papua kurang pandai dalam mengelola aset. Ketika mendapatkan duit banyak dari menjual tanah, gaya hidupnya berubah drastis. Bersenang-senang, tidur di hotel, belanja barang-barang mewah nan mahal, dan berpesta minuman beralkohol. Dalam sekejap, uang ratusan juta, bahkan miliaran rupiah, habis tak tersisa.

“Memang benar seperti itu. Ketika uang habis, baru menyesal. Ini yang tidak saya inginkan terjadi di keluarga saya,” kata Lazarus Osok.

Lazarus Osok adalah bungsu, dari enam bersaudara. Kakaknya sulungnya bernama Dorkas Osok (perempuan), kemudian Organes Osok, Yakomina Osok, Mathius Osok dan Tonce Osok. Ini adalah keluarga besar dari Marga Osok Klalin Malatali, yang menguasai tanah di kawasan Kelurahan Klafma, Distrik Aimas.

Meski posisinya paling bontot, Lazarus yang dipercaya keluarga besarnya untuk mengelola aset peninggalan leluhurnya. Laki-laki yang menempuh pendidikan S-2 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini, memutar otak bagaimana agar aset tanahnya itu bisa mensejahterakan masa depan keluarganya, anak-anak hingga cucu.

“Saya tidak ingin aset ini habis, uang juga habis. Harus dikelola agar terus berkembang, mensejahterakan masa depan keluarga,” katanya.

Lazarus bercerita, pengelolaan aset ini dimulai ketika dia menyelesaikan kuliah di Yogya. Saat itu, dia ditelepon kakak laki-lakinya, yang mengabarkan ada pemilik duit yang ingin membeli beberapa hektar lahannya. Tapi pembelian itu, tidak dibayar dengan uang tunai, melainkan barter dengan 1 unit alat berat, excavator.

“Saya bilang, sabar dulu. Jangan dijual. Tunggu saya pulang dari Yogya,” kata Lazarus.

Setelah menyelesaikan studinya, Lazarus mengumpulkan seluruh saudaranya, perempuan dan laki-laki. Di situ dia menyampaikan gagasan, bahwa untuk bisa membeli alat berat, tidak harus menjual lahan.

“Kita jual material alamnya saja, kita buka quari. Lahan di sini kan banyak mengandung sirtu,” kata Lazarus, mengisahkan idenya, kala itu.

Lazarus Osok berdiri di lantai dua rumahnya, yang masih dalam proses finishing. Gagasannya mengelola aset keluarga, cukup inspiratif. (Foto:Tantowi/TN)

Gagasan itu yang kemudian disepakati. Lazarus menjalin kontrak pembelian material sirtu dengan salah satu kontraktor, yang sedang mendapatkan proyek pembuatan jalan kontainer. Uang hasil penjualan ini, disepakati untuk ditabung, tidak dibagi-bagi untuk kebutuhan sehari-hari.

Hasilnya, ketika kontrak tuntas, terkumpul duit sebanyak Rp 1,3 miliar. Dengan modal itu, Lazarus mencari informasi harga excavator di salah satu dealer alat berat. Tapi keluarga ini harus bersabar dulu, karena uang yang terkumpul masih kurang.

“Saya dapatkan informasi harga exca saat itu 1,4 miliar, ini uangnya baru ada 1,3 miliar. Makanya kita tunda dulu, dicarikan tambahan,” kata Lazarus.

Karena saat itu tidak ada kontraktor yang sedang membutuhkan material alam, menjual sedikit lahannya kepada pemerintah Kabupaten Sorong adalah jalan yang ditempuh keluarga ini. Lahan itu yang sekarang berdiri rumah dinas Bupati Sorong. Kekurangan Rp 100 juta, tertutup, dan 1 unit excavator baru milik keluarga Osok Klalin Malatali, dibayar tunai.

Bermodal alat berat milik sendiri ini, Lazarus berpikir membeli 1 unit lagi. Dia kemudian menghubungi kontraktor yang ada di Kota Sorong, mengikat kontrak penjualan material sirtu. Dilahan yang baru ini, polanya sedikit berbeda. Uang hasil penjualan, sebagian dibagi untuk kebutuhan keluarga, sebagian disisihkan untuk membeli axcavator.

“Tabungan yang terkumpul dari lokasi kedua ini, 1,7 miliar. Ini yang kemudian kami belikan exca,” tandasnya.

Memiliki 2 unit alat berat, Lazarus mengajak saudara-saudaranya untuk memikirkan lagi masa depan keluarga. Sebagai persiapan untuk menikmati hari tua, keluarga ini membuka sekitar 3 hektare lahan, untuk disulap menjadi kawasan perumahan. Sebagai permulaan, ada 9 unit rumah yang sudah dibangun. Masing-masing memiliki ukuran cukup longgar, dengan dua lantai.

Tapi sesuai aturan adat yang berlaku, rumah mewah itu hanya untuk saudara laki-laki Lazarus, anak laki-lakinya, dan anak laki-laki dari saudaranya.  Praktis, dari enam bersaudara, yang berhak atas rumah yang sudah berdiri gagah ini adalah Organes Osok, Mathius Osok, Tonce Osok, Lazarus Osok, Yulius Osok (anak laki-laki Organes), Yansen Osok (anak laki-laki Organes), Nahor Osok (anak laki-laki Mathius), Victor Osok (anak laki-laki Tonce), dan Gerson Toyama Osok (anak laki-laki Lazarus).

Sedangkan saudara perempuannya, menempati rumah yang dibangun dari bantuan pemerintah. Ukurannya jauh lebih kecil dan sederhana, dibangun di lokasi yang sama. Kata Lazarus, dari tradisi adat, saudara perempuan adalah menjadi tanggungjawab dari suaminya untuk memiliki rumah yang besar.

“Lahan yang kita berikan kepada saudara perempuan, juga cukup luas. Masih cukup untuk dibangun rumah yang besar,” kata Lazarus.

Untuk membangun 9 unit rumah mewah itu, ongkos yang dikeluarkan juga hasil penjualan material alam di lahan mereka. Kepada kontraktor yang mengambil sirtu, Lazarus minta agar ditukar dengan material bangunan. Seng, besi, semen, dan semua material dari toko, diperoleh secara barter.

Apakah tidak ingin menjual sebagian lahannya kepada pemilik modal, untuk dibangun perumahan komersil? Lazarus menjawab tidak. Keluarga besarnya ingin membangun sendiri rumah-rumah itu, kemudian dikontrakkan.

“Dengan cara begini, aset peninggalan orangtua ini tidak hilang, tapi juga terus bisa mendatangkan omset untuk kesejahteraan keluarga,” pungkasnya. ***

Anda mungkin juga berminat