Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Keluh Kesah Pengrajin Kriya Tangan Mama-Mama Raja Ampat

0 85

Waisai, TN – Salah satu Kriya kerajinan tangan asli mama-mama Papua di Raja Ampat, khususnya yang berasal dari kampung Paam, distrik Waigeo Barat Kepulauan yakni senat atau tikar terbuat dari kulit gaba pohon sagu disebut masih kurang memiliki nilai jual atau komersil yang cukup. Hal ini diakui salah satu pengrajinnya, Martha Mambraku saat ditemui awak media, Sabtu (30/11).

Dijelaskan Martha, walaupun dalam sehari ia mampu membuat 1 hingga 2 senat dengan ukuran 2 meter hingga lebih disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, kebanyakan senat yang dihasilkan hanya dapat disimpan sebelum dibeli oleh pengunjung maupun keluarga atau kerabatnya yang datang ke kampung Paam.

“Itu selain kami bawa ke Piyainemo untuk dijual. Padahal banyak yang sangat suka dengan senat buatan kampung kami, namun kendala jauhnya kampung ini dari kota Waisai maupun Sorong sehingga kebanyakan hanya kami simpan setelah kami buat,” jelas Martha.

Martha pun menjelaskan, bahwa ia mulai menganyam senat sejak ia remaja, dan memang secara umum wanita kampung Paam belajar membuatnya sejak remaja karena diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang hingga sekarang, walaupun beberapa langkah pembuatan telah menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Senat yang dijual pun akan memiliki nilai jual yang beragam saat dijual, misalnya ukuran 2 meter umumnya akan dijual seharga 100-150 ribu rupiah, dan lebih dari 2 meter akan dijual seharga 200ribu rupiah.

“Kebanyakan pembeli datang ke kampung sini untuk beli di masyarakat. Atau kalau sempat, akan dibawa juga ke resort atau homestay. Karena selain dijadikan tikar, senat ini sering digunakan untuk pelapis dinding atau penahan panas matahari,” jelas Martha.

Kemudian, awak media pun mengikuti dan mengamati saat Martha Mambraku menunjukan proses pembuatan senat yang masih tradisional dengan peralatan sederhana dihalaman rumahnya.

Anda mungkin juga berminat