Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Kejari Sorong Dinilai Tebang Pilih Soal Kasus Korupsi Dana KUR

0 208

Sorong,TN – Jatir Yuda Marau S.H selaku kuasa hukum dari tersangka kasus penggelapan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI Cabang Sorong, Jansen Andrian, menyebutkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Sorong dalam melakukan penegakan hukum terkesan tebang pilih.

Sebelumnya, Jansen Andrian telah di tetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan negeri Sorong terkait kasus penggelapan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada PT Bank Rakyat Indonesia kantor cabang sorong tahun 2017 yang merugikan keuangan negara sebesar rp 4.3 miliar.

Menurutnnya , Kejaksaan Negeri Sorong sepatutnya juga menetapkan 11 orang Nasabah Penerima Kredit KUR seneliai Rp. 4.3 Miliar, Manajer Marketing dan Pimpinan  Cabang Bank BRI Sorong sebagai tersangka.

Hal ini Karena ke-11 Nasabah tersebut menerima langsung dana itu dan Pejabat yang berwenang serta bertanggung jawab menyetujui penyaluran Permohonan Kredit 11 Nasabah BRI tersebut yaitu Manager Marketing dan Pimpinan Cabang Bank BRI Sorong.

Pada kasus ini, Kejaksaan Negeri Sorong menggunakan Pasal 2 ayat (1), Pasal 3  jo Pasal 18 UU RI No.  No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU.R.I No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU R.I. No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP untuk mentersangkakan kliennya.

“Kami selaku Penasihat Hukum Saudara Jansen Adrian melihatnya sangat aneh karna nyata-nyata mereka 11 orang Nasabah menerima uang langsung dan adanya pejabat di Bank BRI Cabang Sorong yang lebih berwenang untuk menentukan Kredit tersebut tersalurkan kok di biarkan bebas berkeliaran menikmati dana-dana tersebut,”kata Yuda, Senin (08/07).

Malah, lanjut yuda,  klien kami hanya sebagai Pelaksana/Karyawan biasa malah di mintai pertanggungjawaban dan di pidanakan ada apa dengan penegakan hukum seperti ini.

Yuda menjelaskan, peranan Kliennya dalam proses penyaluran dana KUR tahun 2017 adalah sebagai Account Oficcer (Pelaksana). 11 Nasabah Penerima Kredit tersebut mengajukan Permohonan Kredit  dan Kliennya hanya  menerima perintah dari Pimpinan langsung yaitu Manager Marketing dan pimpinan cabang untuk melaksanakan proses administrasi.

Dalam hal melaksanakan seleksi administrasi jika ada hal-hal yang tidak dapat dilengkapi oleh Calon Debitur seperti laporan keuangan (neraca) maka pimpinanlah yang mengarahkan untuk membantu melakukan pendampingan pembuatan Nercaca agar memenuhi syarat kredit dimaksud.

Nasabah Penerima Kredit sebesar Rp. 4.3 Miliar seluruhnya melakukan penandatangan kontrak (perjanjian) dengan Bank BRI serta memberikan jaminan, dan Kredit macet inipun tidak pernah dilakukan rescedule dan belakangan di ketahui Kredit Macet ini telah di klaim ke asuransi dan sehingga asuransi telah membayar sekitar 60-70 % Plafon Kredit karna ini adalah Kredit KUR sehingga ada jaminan Pemerintah untuk itu,”jelas Yuda.

Ditambahkannya, Sepatutnya Bank BRI dapat melakukan langkah-langkah penyelamatan kredit dengan memberikan kesempatan pada debitur untuk melakukan penjadwalan ulang kredit tersebut, dan atau jika ada data atau dokumen-dokumen yang di palsukan oleh Debitur sepatutnya Bank BRI melaporkan para debitur tersdebut ke polisi karna penipuan/pemalsuan surat kemudian mengklaim asuransi dan melakukan eksekusi atas

Anda mungkin juga berminat