Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Hakim Marah Lantaran JPU Molor Dari Jadwal Sidang Perkara Penganiayaan Anak Bawah Umur

0 111

Sorong,TN – Pengadilan Negeri Sorong kembali menggelar sidang perkara kasus penganiayaan anak dibawah umur oleh terdakwa M.Noval Ajuan pada 11 Desember 2018 lalu. Sidang dipimpin oleh V.S Wattimena S.H bersama Wilem Depondeye S.H dan Rays Hidayat S.H.

Dalam sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak korban,Ketua Majelis Hakim V.S Wattimena S.H sempat marah.

Hal itu dikarenakan Jaksa Penuntut Umum, Henry Siahaan S.H yang digantikan oleh Jaksa pengganti, I Putu Sastra Adi Wicaksana, tidak kunjung datang di persidangan. Sidang yang seharusnya digelar pukul 14.00 WIT itu terpaksa harus molor.

“Kami inni bukan hanya punya sidang 1 hari 1 kali , kami masih punya beberapa agenda sidang tapi banyak, jadi kami harapakna jaksa harus konsisten dengan waktu sehingga tidak molor seperti ini,”ucap ketu Majelis Hakim, V.S Wattimena dengan nada tinggi.

Dua saksi dari korban dihadirkan di persidangan kasus penganiayaan anak dibawah umur

Menurut dia, seharusnya Jaksa sudah harus hadir tepat waktu sehingga tidak membuat jadwal sidang molor. Majelis hakim pun akhirnya menunjuk Imran S,H untuk menggantikan jaksa pengganti di persidangan.

Sidang akhirnya digelar pukul 14.30. WIT dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari korban. Adapun pihak saksi yang dihadirkan yakni sepupu korban dan ayah korban.

Dari keterangan sepupu korban, Fadila, mengatakan pada saat itu korban bersama dengan temannya sepulang sekolah pergi ke lokasi kejadian atau tepatnya di warung Gorengan Batem.

“Saat pesan makanan, Akbar pergi ke kios beli gula-gula. Setelah itu akbar kembali, lima menit kemudian bapak Noval Ajuan datang marah-marah dan Tanya ini motornya siapa dan siapa yang tadi balap-balap, Akbar menjawab saya om dan bapak Noval langsung memukul Akbar tiga kali di kepala belakang dengan tangan terbuka,”kata Fadila di persidangan.

Melihat kejadian itu, Fadila pun menarik Akbar dari pukulan Noval Ajuan dan mengatakan “Jangan pukul om dia adik saya, cukup bicara saja”.

Dengan nada tinggi noval menjawab “kalo mau balap balap jangan disini, ini bukan tempatnya , sana ikut roadrace”.

“Kemudian saya bilang Akbar untuk melepon orang tuanya karena sudah di pukul bapak oval mengeluarkan kata-kata telpon saja bapakmu saya tida takut,”sambil menirukan perkataan terdakwa Noval Ajuan.

Sementara ayah korban, Rasyid, mengatakan bahwa terdakwa tidak seharusnya memukul anaknya dibagian-bagian vital seperti di kepala.

“kalau memang betul anak saya salah jangan pukul di kepala tapi pukul di kaki,”kata Rasyid.
Rasyid mengungpkan, hingga saat ini dirinya tidak menaruh dendam sedikitpun terhadap terdakwa karena terdakwa merupakan sosok yang sudah lama dikenalnya.

“Sejujurya sampai saat ini saya tidak benci dia karena dia itu teman saya, cuma saya ingin merubah sikap hidup bahwa anak kecil itu bisa dihukum dengan cara yang lain bukan dengan kekerasan,”imbuhnya.

Atas perbuatannya itu, terdakwa dikenakan Pasal 80 junto Pasal 76C UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 01 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sidang itu sendiri akhirnya ditunda dan akan dilanjutkan Selasa Senin depan, 20 Mei 2019 depan dengan agenda pemeriksaan saksi tambahan

Anda mungkin juga berminat