Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Ejekan Tetangga Bangkitkan Semangat Frengki Duwith Menjadi Petani Jamur  

Orang Papua Juga Bisa Berwirausaha (1)

0 618

BELUM banyak Orang Asli Papua (OAP) yang melirik menjalankan usaha secara mandiri. Padahal jika ditekuni dengan baik dan benar, sektor ekonomi kreatif ini mampu menghasilkan uang yang jumlahnya melebihi gaji seorang pegawai negeri sipil maupun karyawan swasta.

Frengki Duwith adalah salah satu dari sedikit OAP yang menerjuni Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pilihannya untuk berwirausaha patut menjadi teladan generasi muda Papua dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Dengan membuang jauh rasa gengsinya, sejak tiga tahun lalu Sarjana Kehutanan asal Ayamaru ini merintis usaha budidaya jamur tiram.

Pergulatannya dengan jamur tiram, berawal ketika dia bertemu dengan seorang penjual es buah di kawasan alun-alun Kota Baru Aimas, Kabupaten Sorong. Saat itu, Frengki masih menekuni pekerjaan sebagai sopir mobil rental. Setiap hari, dia mangkal menunggu penumpang di alun-alun, dan di tempat itu pula, penjual es buah tadi menunggu pembeli datang.

“Saya perhatikan penjual es buah ini. Saya berpikir, tidak mungkin dia hanya berharap hasil jualan es buah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pasti ada yang lain,” kenang Frengki, mengawali kisahnya kepada Teropongnews.com.

Frengki lantas bertanya, apa usaha lain yang dijalankan, dan ternyata ada budidaya jamur yang dikembangkan di rumah penjual es buah itu. Tempatnya tidak terlalu besar, di Jalur A, Aimas Unit 1. Dari obrolan itu kemudian berlanjut hubungan kerjasama, membuat budidaya jamur di rumah Frengki di Jl Walet, Aimas Unit 2. Karena tidak memiliki lahan, garasi mobilnya dikorbankan sebagai kumbung jamur, dengan modal awal yang ia keluarkan sebesar Rp 5 juta.

Kumbung atau rumah jamur, adalah bangunan yang dibuat untuk keperluan budidaya jamur, yang bertujuan melindungi baglog jamur dari hujan, sinar matahari langsung, dan kemungkinan kontaminasi spora jamur. Sedangkan baglog adalah media tanam tempat meletakkan bibit jamur tiram, yang nanti akan menjadi tempat tumbuhnya jamur.

“Sama tetangga saya diejek, mengapa garansinya di buat kandang ayam. Apa tidak sayang mobilnya kepanasan dan kehujanan di luar,” ucap Frengki, menirukan kalimat yang sempat dilontarkan tetangganya, kala itu.

Mengawali kerjasama itu, Frengki menempatkan 500 baglog di garasi mobil yang sudah di permak sebagai kumbung. Tapi hubungan kerjasama itu tidak bertahan lama, tidak sampai 1 tahun. Frengki memilih melepas partner-nya itu untuk menjaga keutuhan hubungan keluarga. Mitra kerja ini selalu melarang saudara-saudara dan keluarga Frengki yang datang ke rumahnya, untuk melihat usaha yang sedang dia rintis.

“Daripada saya putus hubungan dengan saudara dan keluarga, lebih baik saya putuskan hubungan dengan satu orang yang sebelumnya memang tidak saya kenal,” kata Frengki mengutarakan prinsipnya.

Keputusan itu sempat membuatnya kebingungan, karena ilmu budidaya jamur ini belum dia kuasai. Selama menjalin kerjasama, semua pekerjaan budidaya hanya dilakukan mitranya, tidak ditularkan. Frengki yang sudah terlanjur basah dan mendapat ejekan tetangga, tidak lantas menyerah begitu saja dan menanggung malu untuk kedua kalinya.

“Entah bagaimana caranya, saya harus bisa mengembangkan budidaya ini. Secara otodidak saya belajar. Bersama istri saya, pada suatu malam kami keluar, mencari tempat wifi, kita buka-buka internet untuk mencari tahu bagaimana cara budidaya jamur,” kenang Frengki.

Petualangannya berselancar di dunia maya, membuat dia banyak mendapat ilmu dan kenalan baru di bidang perjamuran. Frengki berkenalan dengan petani jamur di Bandung, Jawa Barat, yang sudi membimbingnya dan mengirimkan bibit jamur ke Sorong. “Sampai sekarang ini dia yang kirim bibitnya, karena saya sendiri belum bisa bikin,” kata Frengki.

Dibantu istri dan kedua anaknya, Frengki memilah hasil panen untuk dikemas dan disetor kepada pelanggannya. (Foto:Tantowi/TN)

Satu tahun menekuni bisnis ini, Frengki sudah mulai menikmati hasilnya. Harga jual jamur segar di pasaran yang lumayan bagus, menjadikan Frengki lebih bergairah untuk menjadikan usahanya itu lebih jumbo. Mobil yang dulu digunakan untuk mencari penumpang, terpaksa dilego seharga Rp 80 juta, untuk tambahan modal. Frengki mulai mencari pandangan lahan untuk bisa sewa, dan jatuhlah pilihan itu di lokasi yang sekarang ditempati. Di ujung lorong Walet, tak jauh dari rumahnya. Di tempat ini, Frengki membangun kumbung lumayan besar, dengan kapasitas daya tampung 10 ribuan baglog. Di tempat ini pula, Frengki membuat baglog, mencampur sendiri serbuk kayu, mengemas dalam plastik dan mengukusnya.

“Saya juga mendapat bantuan dari pemerintah daerah untuk pengadaan mesin pengaduk serbuk dan membuat baglog,” tukasnya.

Perkembangan usaha mandiri Frengki tidak berlangsung mulus begitu saja. Ketika musim politik beberapa waktu lalu, Frengki mengalami gagal panen. Dari 4.500 baglog yang dia olah, hanya 100 sampai 200 yang berhasil tumbuh jamur. Itu pun tidak sempurna. Penyebabnya, ada kesalahan pengiriman spora dari Bandung.

“Teman yang di Jawa ini, mungkin fokus politik, dia salah kirim bibit. Seharusnya spora jamur tiram putih, yang dikirim spora cokelat. Akhirnya saya gagal panen,” ujar Frengki.

Tapi musibah itu tidak lantas membuatnya lunglai. Dia berusaha meyakinkan istrinya untuk memulai lagi. “Jadi kita selalu menguatkan satu sama lain, ya namanya kita dalam menjalani usaha tidak mungkin langsung besar, pasti ada gagalnya dulu. Tapi kalau kita tetap tekun di bidang itu, pasti ada hasil. Kuncinya jangan mudah menyerah,” tambahnya.

Kini, dengan jumlah 4000 baglog yang ada di kumbung, sekali panen Frengki mampu memetik tak kurang dari 10 kilo gram. Tidak butuh waktu lama hasil panen itu berpindah tangan, karena sudah ada pembeli yang antri ingin meminangnya.  “Untuk mencukupi kebutuhan seorang pelanggan, saya masih kekurangan. Tapi saya membaginya secara merata, biar semua pelanggan mendapatkan, meski sedikit,” kata Frengki, yang menjual jamur segar seharga Rp 35 ribu per kilo ini. ***

Anda mungkin juga berminat