Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

DPRD Merauke Mediasi Masyarakat Dan PT Harvest Terkait Dampak Limbah Ternak Ayam

0 89

Merauke, TN – Wakil Ketua 2 DRPD Kabupaten Merauke, Dominikus Ulukyanan beserta Anggota DPRD Merauke lainnya memediasi pertemuan antara masyarakat Marga Mulya Distrik Semangga dan PT. Harvest Pulus terkait dampak limbah ternak ayam.

Dalam pembahasan, perwakilan masyarakat Kampung Marga Mulya yang diwakili oleh kepala kampung, tokoh adat dan agam menyampaikan bahwa, seluruh masyarakat merasa terganggu dengan dampak limbah ternak ayam berupa kotoran yang baunya sangat menyengat. Terutama warga RT 12 yang dekat dengan perusahaan dan beberapa RT sekitarnya.

Sebelumnya, sudah ada pengaduan di pemerintahan kampung Marga Mulya dan sudah dilakukan rapat besar bersama instansi terkait. Namun belum ada solusi untuk menjawab keluhan warga agar tidak lagi menghirup bau dari kotoran ayam milik PT Harvest Putus.

“Bau kotoran ayam begitu menyengat dan sangat terganggu,” tutur Tokoh Agama Kampung Marga Mulya, Tukiran.

Pihaknya berharap dengan dilakukan pembahasan bersama pihak Harvest  dan Dewan akan ada langkah bijak yang diambil sehingga masalah tidak berlarut.

Diketahui masa perijinan PT. Harvest Pulus akan berakhir per tanggal 11 Januari 2020, sebagaimana laporan Dinas PTSP dalam rapat. Sebelum masnya berakhir, perusahan disarankan untuk segera mengurus ijin perpanjangan.

“Kalau tidak segera diurus sampai masa berlakunya habis, saya pastikan saya dan anggota saya akan menutup perusahan itu,” tegas Kasatpol PP, Elias Refra.

Kadis Lingkungan Hidup, Harmini mengatakan, berdasarkan UU nomor 3 tahun 2009, perusahaan wajib mempunyai ijin lingkungan. Sejak tanggal 1 Juni 2016, Populasi ayam naik dari 10 ribu menjadi 30 ribu ekor, maka dari sisi dokumen harus diurus kembali.

Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan, Bambang Dwi Atmoko, mengatakan berdasarkan hasil pertemuan dengan warga Kampung Marga Mulya pada hari Selasa,tanggal 29 Oktober 2019, telah ada rekomendasi teknis yang disampaikan ke perusahaan.

1. Untuk mengurangi bau kotoran dalam jangka pendek dapat dilakukan dengan memperhatikan litter pembuangan feses dengan diberi arang sekam, dolomite dan EM4 (kemasan botol kuning).

2. Menjaga agar ayam tidak diare (aluran cerna harus dijaga selalu dalam keadaan normali dan perlu pengecekan apakah terinfeksi cacing atau tidak).

3. Dijaga jangan sampai ada kebocoran tempat minum sehingga tidak ada air yang tumpah ke kotoran ayam.

4. Populasi lalat harus dikendalikan, karena larva lalat membuat kotoran ayam menjad basah.

5. Penggunaan cyromizine di pakan tiap hari untuk meminimalisir larva lalat.

6. Perhatikan fisik tanah tempat kotoran apakah menyerap air dengan baik atau tidak.

7. Penanganan dengan cepat jika ada kotoran yang basah misalnya dengan diberi gampin atau semprot larva lalat sehingga kotoran tetap kering.

8. Penambahan kipas perlu dilakukan jika kotoran ayam masih basah.

9. Populasi ayam yang banyak, menghasilkan feses yang banyak sehingga perlu dievaluasi, apakah tempat pengolahan limbah kotoran mampu menampung kotoran yang ada. Jika pengolahan limbah kotoran belum memadai maka perlu dikurangi populasi pemeliharan untuk periode berikut.

10. Perlu melibatkan masyarakat sekitar untuk memanfaatkan pupuk organik hasil buangan limbah kotoran peternakan ayam.

“Dari 10 rekomendasi, sembilan sudah terpenuhi. Secara berkala kami melakukan monitoring di sana,” jelas Bambang.

Ia mengatakan, kotoran ayam dengan menggunakan teknologi dapat dimanfaatkan untuk pupuk, sehingga tidak ada yang dirugikan karena masyarakat bisa mengambil manfaat tersebut.

Menanggapi peroalan di atas, Kepala Tekhnis Limbah PT Harves Pulus, Arifin, menjelaskan, perusahaan ini mulai beroperasi sejak 2009, perusahaan didirikan berdasarkan permintaan pemerintah sebagai pelopor peternakan guna memenuhi kebutuhan telur dan daging ayam di Merauke. Pertumbuhan perusahan terus berkembang dan mendapatkan pengakuan level 1.

“Kami mempunyai itikad baik dari awal hingga saat ini.”

Ia mengakui dampak yang dialami masyarakat sekitar cukup menggagu dan menyampaikan permohonan maaf.  Beberapa hal yang menyebabkan bau dikatakan karena pengambilan kotoran ayam oleh  masyarakat dan ditabur sembarangan sehingga menyumbang bau, dan ketika dilakukan renovasi kandang ternak.

Beberapa anggota dewan menyarankan untuk  memindahkan lokasi ternak kalau ada penambahan kuota, atau tetap dengan 10 ribu agar tidak kesulitan mengatasi dampak limbah.

Pembahasan diakhiri dengan kesepakatan bahwa untuk mengurus ijin perpanjangan harus meminta rekomendasi masyarakat. Selanjutnya, dalam waktu dekat, Anggota DPRD Merauke akan meninjau kembali kondisi ternak PT Harvest Pulus.

“Kami akan turun ke lapangan setelah kami kembali dari Jayapura,” tutup Waket 2 DRPD, Dominikus Ulukyanan.

Anda mungkin juga berminat