Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Di Kampung Klayili, Proyek Solar Cell Senilai Rp 2,4 miliar Ini Jadi Besi Tua

0 532

Klayili, TN – Kepiawaian pemerintah pusat mengemas sebuah program untuk menciptakan suatu proyek, patut diacungi jempol. Sayangnya, kegiatan pembangunan yang selalu berdalih untuk kemaslahatan rakyat miskin dan tertinggal yang hidup di perkampungan, tanpa diikuti pendampingan lebih lanjut, agar infrastuktur yang dibiayai duit negara itu tidak sia-sia.

Contoh dari fakta ini terlihat dari program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Off Grid, yang digagas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral di Kampung Klayili, Distrik Klayili Kabupaten Sorong.

Dikutip dari situs Kementerian ESDM, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Maritje Hutapea menulis, program pembangunan PLTS Off Grid itu adalah salah satu bentuk mewujudkan Nawa Cita Presiden Joko Widodo ketika masih berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Dalam poin ketujuh dari 9 program Nawa Cita Jokowi-JK tertulis, pemerintah akan Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Dengan Menggerakkan Sektor Strategis Ekonomi Domestik, salah satunya dengan Mewujudkan Kedaulatan Energi.

“Energi telah menjadi kebutuhan mendasar,” tulis Maritje.

Dengan dalih itu, pada 2014 lalu miliaran rupiah duit negara digelontor untuk membangun PLTS Off Grid di sejumlah daerah perkampungan, yang salah satunya bertempat di Kampung Klayili. Leonard Suu, Kepala Kampung Klayili mengatakan, sejak resmi dioperasikan pada tahun 2015, energi sumber penerangan masyarakat kampung itu hanya bisa dinikmati selama satu tahun.

Alberth Andreas Parera S.STP, Kepala Distrik Klayili. (Foto:Tantowi/TN)

Sebanyak 61 KK atau 242 jiwa, menikmati lampu penerangan mulai dari pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi. Bahkan fasilitas umum juga mendapat penerangan.

“Kita tidak tahu, tiba-tiba barang padam, saya bilang ke petugas jaga, tidak usah dikorek barang itu, kasih tinggal, nanti orang kementerian yang memperbaiki,” kata Leonard.

Upaya menghubungi orang Dinas ESDM untuk melaporkan kerusakan itu, sudah dilakukan Leonard. Saat itu hanya sekali datang melihat, dan tidak melakukan perbaikan. Dengan begitu, praktis proyek senilai Rp 2.405.691.515 yang bersumber dari APBN tahun 2014, menjadi tumpukan besi tua yang dipenuhi rumput liar.

Barang yang diproduksi oleh PT Surya Energi Indotama Bandung ini, tidak berfungsi. Untuk mendapatkan penerangan kembali, warga Kampung Klayili saat ini menggunakan mesin genset.

Menurut Leonard, ada dua orang teknisi dari perusahaan yang merakit perangkat itu dan mereka minta dibantu oleh dua orang kampung, yang kemudian diserahi tanggungjawab untuk menjaga dan mengoperasikan perangkat tersebut.

Pernyataan ini juga dibenarkan Alberth Andreas Parera S.STP, Kepala Distrik Klayili. “Tapi bagaimana memperbaiki jika ada kerusakan, sementara tidak ada pelatihan yang diberikan teknisi kepada dua orang ini. Tanggungjawab yang diberikan kepada mereka, hanya merawat, membersihkan debu yang menempel di perangkat itu,” kata Alberth. **

Anda mungkin juga berminat