Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Di Boven Digoel, Ribuan Botol Miras Ilegal Disegel Petugas Bea Cukai

0 121

Merauke, TN – Ribuan botol minuman keras dengan berbagai merk yang hendak dijual ke masyarakat penggemar mabuk-mabukan, disita petugas Bea dan Cukai Merauke

Dalam beberapa kali operasi penertiban yang dilakukan oleh petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Merauke bersama aparat keamanan, tidak kurang dari 6 ribu botol berhasil diamankan dari berbagai tempat.

Dihari pertama operasi miras ilegal pada Selasa (03/12/19), petugas BC dan TNI mengamankan 4.416 botol miras ilegal golongan C, dari sebuah truk yang melintas di Jalan Poros Trans Papua, Kampung Miri.

Hari kedua, Rabu, (04/12/19) penindakan Miras di gudang tanpa nama di Jalan Betop 2 Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel dengan barang bukti 1.680 botol Miras Golongan C.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Merauke, Deny Sudrajat menjelaskan, untuk minuman mengandung alkohol atau minuman keras merupakan Objek Cukai yang harus dibayar cukainya, baik pelunasan maupun pelengkapan pita cukai.

Minuman barang kena cukai khusus minuman keras, dikatakan ada tiga golongan, yakni golongan A dengan kadar alkoholnya kurang dari lima persen, golongan B lebih dari 5-20 persen dan golongan C kadar alkoholnya lebih dari 20 persen.

“Yang kami tegak di lapangan kemarin adalah golongan C. Kalau golongan A berarti untuk pelunasan cukai, sedangkan B dan C adalah pelunasan dan pita cukai,” terangnya di Merauke, Senin (09/12).

Dalam kasus di atas, tindakan pertama yang dilakukan pihaknya adalah mengidentifikasi miras tersebut masuk golongan apa. Kemudian, dicek lebih detail keaslian pita cukai yang sudah terpasang menggunakan alat bantu.

Kedua, melakukan pengawasan atas peredarannya. Khusus minuman alkohol yang banyak beredar di Papua, maka para distributor atau penjual eceran harus memiliki identitas pengusaha barang kena cukai berupa nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC).

Berdasarkan informasi sementara, bahwa barang bukti tersebut berasal dari Surabaya-Bali untuk dikirim ke Papua. Petugas Bea Cukai mengecek dokumen pengirimannya, tujuannya sesuai peruntukan atau tidak. Kalau tidak sesuai dokumen, berarti ada upaya tidak mengikuti prosedur yang ada.

Sesuai aturan, penerima barang baik distributor maupun tempat penjualan eceran, sebelum mendistribusi maupun menerima barang, harus memiliki identitas dari Bea dan Cukai berupa nomor pokok pengusaha barang kena cukai.

“Kalau tidak punya, berarti dia menjual barang secara tidak resmi atau tidak diakui oleh negara. Konsekuensinya nanti ada sanksi administrasi berupa denda minimal 20 juta rupiah dan maksimal 200 juta rupiah, tergantung tingkat keseringan atau frekuensi melakukan pelanggaran,” tambah Deny.

Seperti diketahui, Kabupaten Boven Degoel sudah punya Perda larangan pemasukan dan penjualan Miras.  Sehingga menurut Deny, kalau dilarang, tentunya distributor maupun pengecer akan susah mendapatkan rekomendasi untuk mengurus ijin NPPBKC. Dimana syarat mengurus perijinannya adalah persetujuan atau rekomendasi dari instansi terkait Pemda setempat.

“Kita belum memastikan identitas dan data resminya sebelum kita lakukan berita acara pemeriksaan. Sementara gudang penyimpanan kita segel,” pungkasnya. **

Anda mungkin juga berminat