Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Bupati Ingin Rakyat Sejahtera, Petani Jamur Dibantu Mesin Perontok Padi

0 124

Aimas, TN – Komitmen Bupati Sorong Johny Kamuru untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera di tahun 2022, sepertinya kurang mendapat sambutan hangat dari instansi teknis yang ada di sekelilingnya.

Kondisi ini setidaknya tercermin dari kunjungan lapangan yang dilakukan Bupati Johny Kamuru, ke salah satu kelompok tani yang ada di Kelurahan Malasom, Distrik Aimas, Senin (4/11/2019).

Di tempat ini, Bupati mendatangi tempat budidaya jamur tiram yang dikembangkan Frengki Duwith, Ketua Kelompok Tani Malamoi Sumber Pangan. Dalam kunjungan mendadak ini, Bupati terlihat banyak menebar senyum sebagai tanda bahagia, ketika masuk ke dalam kumbung jamur dan melakukan panen.

“Pak Bupati sangat mengapresiasi budi daya jamur ini,” kata Frengki Duwith, pemilik D’Papua Jamur Tiram.

Berkunjung ke kumbung jamur, Bupati Johny Kamuru seolah ingin memastikan perkembangan usaha yang dulu pernah dibantunya secara pribadi. Dalam rangka mewujudkan Visinya menjadikan Kabupaten Sorong Maju Bersama, Rakyat Cerdas, Sehat Sejahtera 2022, Bupati Johny Kamuru rela merogoh kantongnya Rp 30 juta.

“Uang itu yang kemudian saya gunakan untuk membuat mesin pengaduk serbuk, mesin pres baglog sama satu alat lagi untuk membuat spora jamur,” kata Frengki.

Setelah menyaksikan sendiri perkembangan usaha ini, Bupati berharap ada dukungan dari instansi teknis yang membidangi masalah itu. “Makanya tadi beliau menyuruh salah seorang stafnya, menanyakan ke saya, apa yang menjadi kendala untuk mengembangkan usaha ini,” kata Frengki.

Menurutnya, setidaknya ada tiga faktor yang menjadi kendala utama dirinya, juga para petani yang ada di kelompoknya. Yang pertama adalah persoalan lahan, yang mana rata-rata petani yang tergabung dalam Kelompok Malamoi Sumber Pangan, masih melakukan kegiatan di atas lahan orang lain.

“Termasuk yang saya gunakan ini, juga menyewa. Ini bukan lahan pribadi, tapi saya sewa Rp 10 juta pertahun,” kata Frengki.

Yang kedua adalah masalah sanitasi atau pengairan yang kurang bagus. Disaat musim hujan, lahan pertanian yang digarap kelompok Malamoi Sumber Pangan, selalu terendam air alias kebanjiran. Sebaliknya, lahan petani akan kekurangan air ketika musim kemarau.

Sayangnya, kepada Bupati maupun staf yang mendapat mandat menggali informasi, Frengki tidak bercerita soal minimnya perhatian dari instansi teknis yang terkait, terhadap kelangsungan hidup kelompok tani Malamoi Sumber Pangan.

Bantuan mesin perontok padi yang diterima Kelompok Tani Malamoi Sumber Pangan, yang kini teronggok di samping gudang baglog jamur tiram. (foto:Tantowi/TN)

Pada tahun 2018, kelompok tani yang diketuai Frengki ini, mendapat bantuan alat berupa mesin perontok padi dari Dinas Pertanian. Mesin itu diberikan setelah difasilitasi oleh Lexi Durimalang, Ketua Partai Demokrat Kabupaten Sorong.

“Padahal sebelumnya sudah ada tim yang melakukan verifikasi ke petani, jenis tanaman apa yang ditanam petani di sini, sehingga bisa disesuaikan dengan bantuan mesin yang akan diberikan. Saat itu juga sudah saya sampaikan, kalau di daerah sini itu lahan kering, petani banyak menanam sayuran dan palawija. Saya sendiri membudidaya jamur,” urai Frengki.

Kepala Kelurahan Malasom, Akmadi membenarkan apa yang disampaikan Frengki. Menurutnya, sangat tidak nyambung jika petani sayuran dan palawija, dibantu mesin perontok padi.

“Tidak ada warga saya yang menanam padi. Lalu untuk apa mesin itu? Apa sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja, supaya terlihat ada program dan perhatian kepada petani?” kata Akmadi, keheranan.

Akibatnya, mesin perontok padi itu pun kini teronggok tanpa guna di samping gudang penyimpanan baglog jamur.

Frengki sudah pernah berkonsultasi, apakah mesin itu bisa dijual untuk dibelikan barang lain yang lebih bermanfaat kepada petani, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang berdinas di tempat itu menjawab tidak boleh. “Kalau tidak boleh ya sudah, biarkan begitu saja,” pungkas Frengki. ***

Anda mungkin juga berminat