Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Atur Alur Pelayaran, 13 Mooring Telah Dipasang Tim Survey Gabungan

0 35

Waisai, TN – Tim survey gabungan yang didatangkan oleh dinas perhubungan kabupaten Raja Ampat untuk mengatur posisi mooring buoy atau buoy apung untuk bagi kapal-kapal di Raja Ampat serta membantu penetapan alur perlintasan dan pelayaran didalam perairan kabupaten Raja Ampat telah menyelesaikan keseluruhan tahapan, Minggu (5/5).

Tim survey gabungan yang melibatkan banyak instansi ini diantaranya Technical Officer (TO) dari Pushidrosal Jakarta, staf bidang alur perlintasan dan pelayaran Direktorat Navigasi Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Distrik Navigasi (Disnav) kelas 1 Sorong serta Dinas Perhubungan Raja Ampat, serta turut membantu yakni BLUD-UPTD Raja Ampat dan CI Raja Ampat.

Kepada teropongnews.com, Kepala Seksi (Kasie) lalu lintas dan angkutan laut, Dinas Perhubungan kabupaten Raja Ampat, Kapten Rony Salim, menjelaskan bahwa tim survey gabungan ini telah bekerja sedari tanggal 28 april 2019.

Mereka telah selesai mengumpulkan informasi, pembuatan skema alur pelayaran, batasan kapal yang diperbolehkan, juga waktu pelayaran yang kemudian akan menjadi rekomendasi dalam pembahasan lebih lanjut pada FGD yang akan dilaksanakan sebanyak tiga kali, yakni pertama dilingkup Pemda Raja Ampat, lalu akan dibawa dalam FGD di Bali untuk dibahas dengan operator wisata Liveonboard yakni kapal-kapal wisata, lalu kemudian akan dilanjutkan dalam FGD di Jakarta untuk disahkan dan ditetapkan.

“Sebanyak 13 mooring buoy telah ditempatkan di sekitar perairan pulau Saporkren, Friwen, Yenbuba, Meoskun, Sawinggray, Arborek dan kepulauan Pam. Serta alur pelayaran juga telah kami buat dengan lebar alur sekitar 300-500 meter, dimana dalam rekomendasi ini, akan ditetapkan sebagai alur pelayaran terbatas, yakni oleh bobot kapal, kecepatan kapal, draft kapal, dan pelayaran dalam alur ini hanya dibolehkan pada jam 6 pagi hingga 6 sore,” papar Rony Salim.

Ditambahkan Rony, setelah alur pelayaran terbatas ini ditetapkan, maka sudah tidak ada alasan bagi kapal-kapal yang akan memasuki perairan laut Raja Ampat untuk tidak mematuhinya. Bahkan dengan adanya mooring buoy yang telah dipasang, nantinya setiap kapal dilarang membuang jangkar kedalam laut Raja Ampat, harus bertambat di mooring buoy yang telah dipasang tersebut.

“Dibuat seperti ini pun agar tidak ada lagi alasan kapal yang jika tabrak karang, menyangkal dengan mengatakan alur pelayaran Raja Ampat belum terlihat di alat navigasi milik mereka,” tegas Rony Salim.

Anda mungkin juga berminat