Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Anak Kampung Kasimle Merindukan Guru, Merindukan Pelajaran  

0 274

“Kapan kita pintar kalau tidak belajar

dan kalo guru-guru tidak menetap hanya turung Sorong bisa bisa anak-anak tidak….”

Kalimat ini tertulis pada dinding SD Negeri 16 di Kampung Kasimle, Distrik Seget. Melihat bentuk tulisannya, ini adalah ungkapan tulus yang disampaikan anak-anak kampung setempat, yang menjadi murid di sekolahan itu. Siapapun yang membaca, selagi nuraninya sehat, pasti akan trenyuh dan prihatin.

Trenyuh menyaksikan anak-anak Papua, yang meski hidupnya jauh dari keramaian kota, tapi memiliki semangat dan harapan yang besar untuk menjadi anak yang terpelajar. Seperti halnya anak-anak yang hidup di perkotaan, ketika ditanya, anak kampung Kasimle juga memiliki cita-cita. Menjadi polisi, tentara, dokter.

“Saya ingin menjadi pemain sepakbola yang terkenal,” kata salah seorang anak, sambil menatap tanah lapang yang terhampar di depan matanya.

Coretan dinding, suara hati murid SD Negeri 16 Kasimle.

Anak-anak Kasimle terlihat riang menyambut kedatangan rombongan pemuda ke kampungnya, Sabtu, 26 Oktober lalu. Mereka datang dari Sorong, sengaja untuk melakukan kegiatan sosial. Bersih-bersih kampung, juga berbagi ilmu pengetahuan.

Seperti mendapatkan segelas air di tengah padang pasir. Anak-anak Kasimle begitu antusias mengikuti setiap kegiatan belajar yang digelar. Sejumlah buku bacaan yang dibagikan, menjadi rebutan. “Sepertinya mereka sangat rindu dengan buku pelajaran,” kata Mira, salah seorang peserta rombongan.

Kerinduan anak-anak Kasimle terhadap mata pelajaran, sepertinya bukan pepesan kosong. Menurut Ham Kasilit, Ketua Komite SD Negeri 16 Kasimle, sudah hampir satu bulan tenaga pengajar di SD itu tidak ada yang datang mendidik murid-muridnya.

“Guru di sini seminggu sekali. Sudah sebulan ini mereka tidak hadir di sekolah untuk mengajar,” kata Ham Kasilit.

Ini yang menjadi keprihatinan murid dan para orang tuanya. Termasuk Ham Kasilit selaku Komite Sekolah. Dengan jumlah murid dari kelas I sampai VI sebanyak 51 anak, SD Negeri 16 Kasimle memiliki 4 orang guru pengajar. Status mereka kontrak, ada juga yang honorer. Hanya Kepala Sekolah yang sudah menjadi pegawai negeri.

Jarak tempuh dari Aimas, ibu kota Kabupaten Sorong, untuk menuju kampung ini menggunakan mobil, butuh waktu sekitar 3 jam. Kalau naik sepeda motor, tambah 1 jam lagi sudah tiba. Lokasinya yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan maupun ruang ber AC di pusat perbelanjaan, seharusnya tidak dijadikan alasan para guru yang memang berniat tulus mengabdi sebagai tenaga pendidik.

“Di tempat itu, juga sudah dibangun rumah guru yang sangat layak. Dibangun oleh perusahaan migas yang beroperasi di sekitar kampung itu. Saya lihat perabotnya juga lengkap,” kata Mira.

Dari setiap unit rumah yang dibangun couple itu, dilengkapi 2 kamar tidur ukuran 3 x 4 meter, 1 kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Jarak rumah guru dengan sekolah hanya sekitar 10 meter. Di depannya juga terdapat gereja sebagai fasilitas tempat ibadah.

Air sumur yang ada disamping rumah guru, memang hanya layak digunakan untuk bersih-bersih. Instalasi listrik di rumah itu juga sudah terpasang. Hanya saja, belum ada sambungan listrik dari PLN. Untuk kebutuhan penerangan, digunakan mesin genset milik warga setempat.

Pihak Komite Sekolah tidak mengetahui apa alasan para guru di SD 16 Kasimle tidak mau tinggal di rumah dinas itu, dan menjalankan kewajibannya sebagai tenaga pengajar yang dibayar negara. “Kepala Sekolahnya juga cuma pulang pergi, tidak bermalam,” kata Kasilit.

Dampak lain karena seringnya tidak digunakan fasilitas tempat belajar itu, fisik bangunan mulai rusak disana sini. Atapnya mulai berlobang, begitu juga kaca jendela. Rumput liar tumbuh subur di halaman sekolah.

Padahal, kata Ham Kasilit, semangat anak-anak Kasimle cukup tinggi dalam mencari ilmu. Bahkan, orangtua mereka sudah menyiapkan anak-anaknya rumah di Distrik Seget, kelak jika sudah lulus SD dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tingakt SMP dan SMA.

“Sudah dipersiapkan rumah untuk tinggal, supaya mereka tidak jauh-jauh kalau mau melanjutkan sekolah. Tapi untuk melanjutkan pendidikan, saat ini kami membutuhkan guru untuk anak-anak kami disini,” tandasnya.

Angki Dimara

Angki Dimara, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Sorong, mengaku prihatin menyaksikan fakta pendidikan seperti itu. Makanya, dia menyarankan kepada pemerintah, untuk lebih selektif lagi ketika merekrut pegawai negeri sipil, khususny untuk mengisi formasi guru.

“Harus diseleksi calon pegawai (guru) yang benar-benar punya niat tulus untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Cari yang punya keseriusan sebagai guru, dimanapun ditugaskan. Jangan sampai anggaran pemerintah terbuang sia-sia, hanya untuk menggaji mereka yang tidak memiliki rasa tanggungjawab,” pungkasnya. ***

Anda mungkin juga berminat