Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Aliansi Mahasiswa Bantah Terima Uang dari Karyawan Henrison

0 303

Aimas, TN – Aliansi mahasiswa se-Sorong Raya membantah telah meminta ‘uang terima kasih’ dari karyawan PT Henrison Inti Persada (HIP) yang sudah mengundurkan diri dari perusahaan dan menerima uang pesangon.

Hal ini ditegaskan tiga orang perwakilan aliansi, Ajudan Mafinanik, Rivaldo Lumamuly, dan Sebi Fadirubun, mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UMS) Sorong, Jumat (25/10/2019). “Perjuangan kami mengawal aksi karyawan PT HIP dalam menuntut hak-haknya, murni datang dari idealisme kami sebagai mahasiswa. Tidak ada tujuan lain yang tersembunyi, apalagi tujuan agar kami mendapatkan bagian uang pesangon itu,” kata Ajudan Mafinanik.

Klarifikasi ini dilakukan untuk menanggapi pemberitaan Teropongnews pada edisi Minggu, 20 Oktober 2019 dengan judul; Anggota DPRD Kabsor Minta PT HIP Batalkan Surat Pengunduran Diri Karyawan. Dalam berita itu disebutkan, karyawan yang sudah mengundurkan diri dari perusahaan dan menerima pesangon, harus menyisihkan sejumlah uang pesangon antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per orang, yang diduga sebagai uang ucapan terima kasih kepada kelompok tertentu yang disebut-sebut telah memperjuangkan hak-hak karyawan.

Pernyataan ini disampaikan anggota DPRD Kabupaten Sorong dari Partai Berkarya, Manuel Syatfle S.IP. Meski tidak menyebut aliansi mahasiswa sebagai kelompok yang menerima uang terima kasih itu, kata Ajun, publik akan langsung menilai bahwa aliansi mahasiswa yang menerima uang itu. “Karena siapa lagi kelompok tertentu yang dimaksud dalam berita itu, kalau bukan kami aliansi mahasiswa. Makanya kami ingin mengklarifikasi berita itu, biar tidak ada salah paham di publik dan menjaga nama baik aliansi mahasiswa,” kata Ajudan.

Pernyataan senada juga disampaikan Rivaldo. Menurutnya, idealisme mahasiswa tidak bisa ditukar dengan uang. Dirinya sudah pernah menolak pemberian uang terima kasih dari karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan, dan menerima pesangon.

“Itu inisiatif mereka sendiri untuk memberikan uang terima kasih. Tapi saya sampaikan ke mereka, saya mendampingi karyawan ini bukan untuk mencari uang. Ini kami lakukan murni idealisme kami sebagai mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat,” tandasnya.

Dalam mengawal aspirasi karyawan, aliansi mahasiswa juga selalu menekankan agar karyawan memilih solusi terbaik untuk masa depannya. Apakah mereka masih mau lanjut bekerja di PT HIP atau mengundurkan diri dan ambil pesangon, terserah karyawan sendiri. “Kami tidak pernah memaksa mereka harus keluar dari perusahaan, agar mereka dapat pesangon dan kami dapat bagian. Itu tidak betul,” kata Rivaldo.

Sementara terkait permintaan karyawan kepada perusahaan, agar pembayaran uang pesangon dibayar manual dan tidak dilakukan dengan cara transfer, itu adalah murni aspirasi dari karyawan. Hal ini dibenarkan Ones Simus Meres, salah seorang karyawan PT HIP di Kebun I yang sudah mengundurkan diri dari perusahaan.

“Karena banyak teman-teman yang keluar ini, punya hutang di bank. Maksudnya mereka, kalau ditransfer ke rekening, nanti orang bank langsung potong untuk bayar hutang. Makanya mereka minta agar dibayar tunai,” kata Ones, yang mengaku suda 14 tahun bekerja di PT HIP.

Sebelumnya beredar kabar, bahwa permintaan bayar pesangon secara manual itu, adalah inisiatif dari kelompok tertentu, agar memudahkan dalam mengutip uang terima kasih. “Sekarang ini sudah lebih dari 500 orang karyawan yang sudah menerima pesangon, sudah pergi dari Sorong. Kami aliansi tidak tahu kapan mereka pergi,” tandasnya. **

Anda mungkin juga berminat