Septinus Kalami: Klaim Marganya Berdasarkan Putusan PN & Sidang Adat

0
35

Sorong TN.Com– Menanggapi pernyataan kuasa hukum Marga Kwaktolo Ulim, M. Yasin Djamaludin, S.H, yang mengatakan bahwa keret/marga Kalami tidak mempunyai hak ulayat di Kota Sorong, Septinus Kalami pun angkat bicara.

Dalam keterangan persnya pada wartawan di ruang kerjanya, Rabu ( 01/03 ) Septinus Kalami menegaskan, klaim marganya atas kepemilikan tanah seluas 1067 hektar (ha) di Kota Sorong bukan tanpa dasar, tetapi secara riil didukung dengan putusan pengadilan negeri dan diakui oleh LMA Malamoi.

“ Saya menilai bahwa Putusan Pengadilan Negeri Sorong nomor 87/PDT/G/2015/PN-SON itulah yang mencerminkan keadilan dan diakui oleh Ketua Lembaga Masyarakat Adat ( LMA) Malamoi serta tokoh adat suku Moi yang ada di Kota Sorong. Sementara Putusan Pengadilan Tinggi Jayapura Nomor 66/PDT/2016/PT JAP itu tidak mencerminkan keadilan, karena bertentang dengan fakta objektif di lapangan,” ujarnya.

Kata dia, sidang adat yang sah adalah sidang adat yang digelar pada tanggal 10 April  2013 di lapangan bola Moyo Klasaman Kota Sorong, bukan sidang adat yang dilaksanakan pada  tahun 2010, sebagaimana yang diutarakan kuasa hukum Marga Kwaktolo Ulim, M. Yasin Djamaludin.

Perlu dicamkan,  lanjut Septinus, waktu sidang adat di lapangan Moyo, telah diputuskan dan diakui bahwa hanya ada tujuh marga yang mempunyai hak ulayat di Kota Sorong yakni, Marga Kalami, Malaseme, Osok Malamsimsa, Malibela Klawalu, Klagison, Mubalus Klawaisa dan Klagalus. Sementara Marga Kwaktolo Ulim tidak memiliki hak ulayat sejengkalpun di Kota Sorong. “ Kami ini adalah ahli waris yang sah dari Almarhum Mayun Frans Kalami dan Petrus Kalami, jadi kami berhak mengklaim hak kami,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Komentar