Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

PLN Angkat Bicara Soal Polusi Debu Di Tidore

0 14

Ternate, TN – PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Kota Ternate akhirnya angkat bicara soal keluhan warga Kelurahan Rum Balibunga, Tidore Maluku Utara, terkait abu residu dari aktivitas pembongkaran dan pengolahan batubara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Lewat Asisten Manager Pelayanan Distribusi, Syaiful, PLN Kota Ternate mengatakan, kualitas batubara yang digunakan PLTU Tidore sangat terjamin.

“Kalau tidak ya tentu masyarakat Ternate dan Tidore tidak dapat menikmati listrik,” kata Syaiful lewat rilisnya yang diterima Teropongnews.com, di Ternate, Sabtu (26/1).

Dia mengaku, para pekerja di PLTU Tidore menyadari itu. Selain jarak antara area PLTU dengan pemukiman warga cukup dekat, faktor lain adalah arah angin.

“Sebenarnya, kami sudah lama menyemprot zat kimia pengikat debu. Tapi memang angin di area itu terlalu kencang,” katanya.

Lantaran PLTU adalah investasi negara, kata Saiful, sehingga pihaknya hanya mampu mengusulkan ke kantor wilayah yang berkedudukan di Ambon dan kantor pusat di Jakarta.

“Kami usulkan untuk dibuatkan taman vertikal. Jadi nanti di situ dibangun pagar, lalu ditambah tanaman yang tinggi. Tapi semua tergantung persetujuan mereka,” katanya.

Sementara, soal ketinggian corong pembuangan sendiri, dinilai Syaiful, sudah tepat. Menurut dia, tidak perlu dibangun melewati bukit. “Kalau terkait saringan, bukan rusak. Tapi memang filternya sudah harus diganti,” tuturnya.

Menanggapi jalur pengangkutan batubara dari kapal menuju area penyimpanan yang memotong badan jalan raya, dikatakan Awat, sejak awal sudah ada rencana pembangunan jalur melingkar. Bahkan, hal tersebut dijanjikan sendiri oleh Pemerintah Kota Tidore di era kepemimpinan Achmad Mahifa.

“Tapi tidak jadi. Mungkin pertimbangan anggaran,” katanya.

Apalagi, kata dia, lahan PLTU Tidore sendiri seluas 18 hektare. Sedangkan yang baru terpakai 10 hektare. Sehingga difungsikanlah jalan utama sebagai jalur operasional. Awat beranggapan, karena operasional penurunan batubara tidak dilakukan setiap hari.

“Batubara kan diangkut 3 sampai 4 bulan sekali baru masuk ke sini,” katanya.

Menurut dia, awalnya PLTU dibangun di Ternate. Namun tidak ada lahan. Sehingga, pembangunan dialihkan ke Tidore. Ia menampik asumsi bahwa, pembangunan PLTU di Tidore akibat dari tidak tersedianya lahan.

“Kita bangun di Tidore juga karena ada izin dari Pemda Tidore. Lagipula, Mahifa sendiri berjanji akan bangun jalan lingkar untuk PLTU. Tapi tidak jadi. Mungkin persoalan anggaran,” katanya.(*)