Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Petani Manokwari Keluhkan Rencana Peremajaan Lahan Kelapa Sawit

Menunggu Sampai Dua Tahun Tanpa Kepastian

0 51

Manokwari, TN – Sejumlah petani sawit rakyat di Manokwari mengeluhkan rencana program bantuan peremajaan lahan yang tidak kunjung dilaksanakan. Sejak mulai direncanakan dari tahun 2016 tentang penanaman kembali kebun sawit yang sudah tua dan tidak berproduktif, hingga saat ini para petani yang juga pemilik lahan mengaku belum ada tanda-tanda kegiatan peremajaan.

Ketua kelompok tani Sido Mulyo, Samuji menyampaikan dirinya masih belum mendapat informasi apapun mengenai program bantuan peremajaan sawit. Dirinya menjelaskan kondisi sawit rakyat saat ini sudah sangat tua dan tidak lagi produktif yang mengakibatkan sangat menurunnya pendapatan dari hasil panen sawit.

“Kondisi sawit rakyat saat ini sudah tidak bisa lagi kami andalkan untuk dijadikan penghasilan karena sudah tua. Dua tahun lalu telah disosialisasikan mengenai program bantuan peremajaan sawit, kami dari kelompok tani juga sudah menyerahkan semua dokumen pendukung seperti sertifikat lahan sebagai persyaratan. Tapi hingga saat ini belum ada wacana lebih lanjut kapan akan dilaksanakan,” ungkap Samuji saat ditemui Teropong News, Sabtu (5/1/2019) kediamanya di desa Mantet, distrik Masni.

Rencana peremajaan sawit tersebut dijelaskan oleh Samuji telah dimulai sejak tahun 2016. Sejak itu telah dilakukan sosialisasi tahapan-tahapan hingga hasil apa saja yang nanti dapat dinikmati oleh para petani. Sebagai salah satu ketua kelompok tani, Samuji dulu bertugas yang mengumpulkan sertifikat lahan dari anggota petani yang ada dikelompoknya sebagai salah satu syarat untuk mengajukan bantuan. Dokumen tersebut diserahkan kepada pihak APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Manokwari untuk nantinya diteruskan untuk dilakukan verifikasi agar mendapat rekomendasi dari pemerintah setempat.

Akan tetapi tahapan proses tersebut dinilai sangat lamban sehingga muncul keraguan dari para petani yang mempertanyakan apakah program tersebut akan dilaksanakan ataukah tidak. Belum lagi sebagian besar petani mengaku bahwa saat menyerahkan dokumen asli sertifikat lahan tersebut tidak ada bukti tertulis yang dapat dijadikan pegangan. Dari informasi yang dihimpun oleh Teropong News, sebagian besar petani sawit di Manokwari memiliki lahan sebesar dua hektare. Untuk program peremajaan itu sendiri, jika terlaksana maka petani akan diberikan bantuan sebesar Rp25 juta per hektare.

“Informasi terakhir yang kami terima, rencananya program ini akan dilaksanakan pada Desember 2018 sekaligus dengan kunjungan Presiden Jokowi ke Manokwari. Tapi kenyataannya sampai awal 2019 ini masih tidak terlaksana juga,” tutur Samuji.

Penurunan Penghasilan Tani Sawit Hingga Nol Rupiah

Sebagai seorang petani sawit, Samuji menganggap program bantuan peremajaan tersebut sangat membantu mengembangkan perekonomian. Namun lambannya proses tersebut justru berbalik menjadi kerugian bagi para petani sawit sendiri, dimana denjelaskan drastisnya penurunan penghasilan saat ini bisa mencapai titik nol rupiah. Kondisi tersebut juga semakin memburuk karena harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit semakin menurun.

“Dulu setiap bulan kita bisa mendapatkan hasil dari panen sawit sekitar dua juta rupiah, tapi kalau sekarang paling tinggi sekitar Rp170 ribu per bulan. Dengan pendapatan seperti itu bisa apa kita?” terang Samuji.

Seperti diketahui, program peramajaan sawit pertama kali dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 17 Oktober 2017 dengan menunjuk Badan Pengelola Bantuan Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk membantu pembiayaan hingga penyalurannya. Sesuai Keputusan Dirjen Perkebunan Nomor 29/KPTS/KB.120/3/2019 tentang Pedoman Peremajaan Kelapa Sawit Pekebun, proses pengajuan pada setiap tahapannya mulai dari verifikasi dan rekomendasi di tingkat provinsi hingga penyampaian rekomendasi teknis Dirjen ke BPDPK, masing-masing hanya memakan waktu selambat-lambatnya lima hari.

Anda mungkin juga berminat