Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Spesies Baru, Anjing Mirip Serigala Ditemukan di Dataran Tinggi Papua

0 143

Sorong, TN- Spesies anjing baru, ditemukan para peneliti di Papua, anjing yang hidup di kawasan Grasberg, di Tembagapura, kabupaten Mimika, Papua itu, diketahui tidak bisa menggonggong melainkan teriakan panjang atau melolong dan memiliki tubuh yang lebih besar dari kondisi tubuh anjing lokal di Papua pada umumnya.

Hewan ini pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh seorang geologist berkebangsaan Amerika, Ronald Pecocz dalam ekspedisinya di Papua tahun 1980-an.

Karena belum memiliki nama ilmiah, para peneliti menyebutnya sebagai “singging dog”.

Awalnya anjing tersebut, dikiran sebagai anjing Dingo yang hidup di benua Australia sedang berjalan di sekitar puncak Mandala. Sang fotographer sempat mendokumentasikan keberadaan hewan tersebut.

Penelitian terhadap singging dog, pertama kali dilakukan Tim Peneliti dari Universitas Negeri Papua, Manokwari bersama James Mcintyre, seorang peneliti dari New Guenia Highland Wild Dog Foundation di USA di sekitar areal pertambangan PT Freeport Indonesia di tahun 2016.

Metode penelitian digunakan berupa observasi yang dilakukan secara langsung maupun menggunakan kamera trap untuk mendeteksi keberadaan anjing-anjing daratan tinggi, di sekitar wilayah Graberg, Timika, Papua.

Penemuan spesies baru anjing dataran tinggi ini, dipublikasikan pada saat pelaksanaan Internasional Conference On Biodiversity, Ecotourism and cretive economy atau ICBE 2018 di kantor gubernur Papua Barat kecamatan Manokwari Selatan, kota Manokwari, provinsi Papua Barat, Rabu (10/10).

Habitat singing dog adalah dataran tinggi minimal 7000 meter diatas permukaan laut. Hewan ini biasa hidup berkelompok yang terdiri dari empat ekor anjing. Pimpinan kelompok adalah anjing jantan, dengan tiga ekor betina. Oleh masyarakat asli suku Amume dan Kamoro, aning ini dianggap sebagai nenek moyang mereka.

Hendra Kurniawan Maury M.si, peneliti dari Universitas Papua yang ikut meneliti singging dog, menjelaskan, penelitian yang mereka lakukan bersama bermula dari laporan pekerja tambang di Grasberg yang menginformasikan bahwa di sekitar areal kerjanya banyak tedapat anjing liar.

“Kami mendapat informasi dari pekerja tambang di Grasberg yang menginformasikan bahwa di sekitar daerah Grasberg banyak anjing liar. Awalnya saya berpikir selama ini informasi anjing liar itu, adalah anjing domestik yang dilepas liarkan, Namun setalah kita dicari informasi lebih lanjut, ternyata anjing ini adalah separate spesies dengan anjing domestik.” ujar Hendra.

Menurut lulusan S2 ITB ini, pada tahun 2016 higga 2018 tim dari Universitas Cendarwasih telah dilakukan penelusuran tentang singging dog untuk mencari tahu apakah lebih primitif diabnding dingo atau lebih modern. Namun jika lilihat dari berarapa ciri fisiknya singging dog lebih primitif dibandingkan dingo.

“Jika lilihat dari ciri fisiknya seperti lebar kepalanya, kemudian dari susunan kanisnya yang lebih besar, menunjukan singging dog lebih primitif dibandingkan dingo,” Jelas Hendra.(*)