Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Imigrasi Larang Jurnalis BBC Liputan di Papua

Rebeca Dipersilahkan Meliput Daerah Lain

0 108

Sorong, TN – Soal jurnalis BBC yang sempat diperiksa terkait kegiatan liputan mengenai kasus gizi buruk di Kabupaten Asmat, Rebecca Alice Henchke akhirnya dilarang untuk melakukan peliputan di wilayah Papua. Oleh pihak Imigrasi, pembatasan kegiatan jurnalistik Rebecca dikarenakan cuitan negatifnya soal gizi buruk di Papua.

Kepala bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Agung Sampurno mengatkan keputusan tersebut sudah dikordinasikan dengan pihak sponsor Rebecca setelah dimintai keterangan. Pihaknya menjelaskan bahwa Rebecca masih bisa melakukan peliputan di wilayah selain Papua.

“Dia tidak dilarang melakukan kegiatan jurnalistik, hanya saja dibatasi, beliau tidak bisa ke Papua sekarang ini,” kata Agung, seperti yang dilansir dari media Kompas, Senin (5/2/2018).

Namun sayangnya Agung tidak menjelaskan mengenai sponsor yang dimaksud adalah kantor berita BBC. Dirinya hanya menerangkan selama pemeriksaan, paspor Rebecca tidak pernah ditahan karena memang berada di imigrasi. Lalu setelah melakukan pertemuan, paspor tersebut sudah diberikan kepada Rebecca.

Dari hasil pemeriksaan, Agung mengatakan Rebecca melanggar ketentuan dimana yang bersangkutan harus menghormati pemerintah dan peraturan undang-undang. Menurut Agung ketentuan itu seharusnya sudah disampaikan saat mengajukan visa. Dimana kebijakan keimigrasian nasional adalah selective policy, dengan kata lain hanya orang asing yang membawa manfaat bagi bangsa dan negara yang diberikan izin masuk untuk tinggal dan berada di Indonesia.

Oleh karena itu, setiap orang yang berada di wilayah hukum Indonesia, termasuk orang asing, harus menghormati dan mematuhi peraturan perundangan yang ada. Jangan bersikap semaunya sendiri berdasarkan nilai-nilai dan hukum dari negara asalnya.

Aktivitas Rebecca selama berada di Indonesia akan diawasi oleh Tim Pengawas Orang Asing (Tim Pora) yang melibatkan sejumlah instansi diluar Imigrasi, termasuk pihak keamanan.

“Kantor imigrasi Timika bersama anggota Tim Pora lainnya akan terus memantau perkembangan kasus (gizi buruk) ini. Semoga kejadian ini juga menjadi pelajaran bagi jurnalis WNA (warga negara asing) lainnya agar mematuhi peraturan di Indonesia.” kata Agung. (mdl)