Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

19 Kampung Di Raja Ampat Deklarasikan Kawasan Perikanan Adat

0 446

Raja Ampat, TN – Masyarakat adat dari 19 kampung yang berada di Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Selat Dampier, Raja Ampat, mendeklarasikan Kawasan Perikanan Adat (KPA). Bertempat di kampung Yenanas, Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat.

Deklarasi adat ini menjadi satu momen bagi masayarakat adat Suku Maya, untuk menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen untuk menjaga ekosistem laut dan memanfaatkan sumberdayanya secara berkelanjutan.

“Kenapa kami dari dewan adat fokus di laut, karena kehidupan masyarakat adat suku maya itu tergantung di laut bukan di darat . Di darat hanya 20 persen ,sedangkan di laut 80 persen masyarakat adat menggantungkan hidupnya di laut,” kata Ketua Dewan Adat Suku Maya, Kristian Thebu.

Diketahui, kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Kepulauan Raja Ampat ditetapkan melalui Keputusan Menteri kelautan dan perikanan No. 36 tahun 2014. Meskipun demikian, penetapan ini tidak secara otomatis membuat perairan Kabupaten Raja Ampat terlepas dari ancaman kerusakan ekosistem laut dan sumberdaya ikannya.

Ancaman-ancaman tersebut diantaranya adalah penangkapan ikan yang tidak teratur dan jauh dari prinsip-prinsip berkelanjutan, juga munculnya fenomena nelayan luar wilayah Raja Ampat yang mengambil sumberdaya laut dengan semena-mena. Sehingga menyebabkan nelayan setempat di kabupaten ini kurang mendapatkan manfaat langsung dari konservasi.

Hal ini yang mendorong RARE, sebuah lembaga swadaya masyarakat menawarkan bantuan kepada pemerintah daerah dan pengelola KKP.

Vice Presiden Rare Taufiq Alimi mengatakan Permasalahan perikanan tangkap skala kecil yang terjadi di hampir semua masyarakat pesisir adalah perikanan dengan akses terbuka. Hal itu menyebabkan siapa saja bisa datang mengambil dan tanpa adanya batasan.

“Tak jarang, karena takut keduluan oleh nelayan lain, beberapa nelayan menggunakan alat tangkap yang merusak. Jika ini dibiarkan, maka sumber daya laut dan perikanan akan habis,”ujar Taufiq.

Oleh karena itu, Rare dengan dukungan dari USAID SEA (Sustainable Ecosystems Advanced) Project mendorong pengelolaan perikanan yang lebih baik lewat pendekatan tertentu nelayan bisa berubah menjadi menangkap ikan pada ukuran yang benar, dengan alat tangkap yang sesuai, dan di tempat yang dibolehkan.Semua ini dikerjakan dalam kerangka Kawasan Perikanan Adat (KPA).