Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Perekaman E-KTP di Maluku Terhambat

0 9

Ambon, TN – Kondisi jalan dan ketersediaan jaringan internet yang tidak memadai merupakan salah satu pemicu proses perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) yang dilakukan tim Jemput Bola Gotong Royong Nusantara, di empat Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku terhambat.

Berbagai dendala tersebut menyebabkan, gerakan jemput bola dalam rangka memudahkan masyarakat yang berdomisili di daerah-daerah terpencil di Maluku untuk mendapatkan perekaman eKTP menjadi terhambat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Provinsi Maluku, Dewi Andaini Pattimahu mengaku, empat Kabupaten/Kota yang didatangi tim adalah Kabupaten Kepulauan Tanimbar (sebekumnya bernama Maluku Tenggara Barat), Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dan Kota Tual.

Menurut dia, tim jemput bola terdiri dari Disdukcapil Jawa Tengah, Disdukcapil Provinsi Maluku, Direktorat Jenderal Disdukcapil dan Disdukcapil Kabupaten/Kota yang disasar. Tim bergerak menuju kecamatan hingga pelosok desa sejak pertengahan bulan Januari 2019.

Di SBT sendiri, kata Pattimahu, tim mengalami kendala untuk menjangkau beberapa wilayah di kabupaten penghasil minyak tersebut. Seperti saat menuju Kecamatan Siwalalat dari Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, tim terhalang arus sungai yang meluap akibat hujan.

Bukan saja itu, saat menuju Kecamatan Werinama dari Bula, Ibukota Kabupaten SBT, tim harus terhenti dan tidak bisa menembus kawasan tersebut akibat hal serupa. Ditambah akses jalan yang belum diaspal hingga mengakibatkan jalanan menjadi becek dan sulit dilalui kendaraan.

“Kendala banyak untuk Maluku secara keseluruhan. Misalnya untuk ke Werinama saja, tim tidak bisa tembus ke sana, karena sungai meluap akibat hujan deras sehingga hanya mengandalkan rakit yang sudah tua dan akhirnya rusak. Hal yang sama juga terjadi di Gorom dan Geser, Kabupaten SBT maupun di Kabupaten MTB,” kata Pattimahu.

Agar bisa sampai ke dua Kecamatan Werinama dan Siwalalat, Kabupaten SBT, Pattimahu mengaku satu-satunya cara adalah menunggu sampai air sungai surut dan berharap tidak turunnya hujan.

Faktor inilah yang membuat animo masyarakat di dua Kecamatan itu pergi melakukan perekaman KTP dan Sebagainya di Kota Bula jadi terhambat. “Walaupun KTP, Akta Kelahiran dan sebagainya itu gratis, tapi biaya kesana (Bula) itu besar karena hadapi medan seperti itu,” ungkapnya.

Medan yang sulit itu membuat sebagian masyarakat yang hendak ke Bula terpaksa menuju Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, terlebih dahulu. Biaya perjalanan pergi dari Siwalalat, SBT menuju Masohi sebesar Rp250 ribu per orang.

Sementara jika dari Werinama, harus mengeluarkan biaya Rp300-350 ribu. “Belum lagi dari Masohi ke Bula, itu berapa? Kepala Desa disana bilang untuk ongkos saja bisa sampai satu jutaan, belum biaya makan dan menginap. Bisa sampai satu juta. Itu yang membuat animo masyarakat disana berkurang,” tuturnya.

Akibat medan itu, Pattimahu mengakui tim jemput bola sangat membantu meringankan beban masyarakat untuk mendapatkan perekaman eKTP. “Tim jemput bola juga kesulitan karena medannya seperti begitu, butuh biaya lebih besar dan anggarannya jadi lebih besar juga. Jadi tidak mudah,” sambungnya.

Selain masalah medan yang sulit, jaringan telkomsel maupun internet akhir akhir ini juga dalam kondisi kurang baik di 11 Kabupaten/Kota di Maluku.

“Rata-rata saya dengar tidak bagus. Kemarin bawa M2M atau alat modem yang bisa perekaman langsung cetak tapi tergantung jaringan. Misalnya untuk di Werinama dalam beberapa hari hanya bisa cetak 50 KTP karena jaringan tidak bagus. Kalau yang di Werinama saja jaringan sudah tidak bagus, apalagi yang lokasi jauh-jauh seperti Gorom atau MTB? pasti lebih parah lagi,” jelasnya.

Meski begitu, Pattimahu tetap optimis, Disdukcapil Maluku akan menyelesaikan proses perekaman hingga pencetakan sesuai target nasional jelang Pilpres dan pileg 2019 mendatang.

“Insya Allah, yang penting jaringan bagus. Hanya itu, kendala-kendala seperti yang saya sebutkan itu diluar kemampuan kami seperti kondisi alam,” tandas dia.(*)