Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

November 2018, TPK Hotel Di Malut Turun

0 28

Ternate, TN – Pada November tahun 2018, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Maluku Utara (Malut) sebesar 31,30 persen, atau turun sebesar 5,02 poin, jika dibandingkan Oktober 2018 yang sebesar 36,32 persen. Bahkan, jumlah ini lebih tinggi jika dibandingkan pada September 2018 yang sebesar 50,22 persen.

TPK hotel bintang untuk Oktober 2018 bertengker 57,54 persen atau naik sebesar 7,32 poin. Sementara, TPK hotel nonbintang pada November 2018 sebesar 27,12 persen atau turun sebesar 1,54 poin, jika dibandingkan Oktober 2018 yang sebesar 28,65 persen.

Sementara, rata-rata lama menginap tamu pada November 2018 sebesar 1,62 hari atau turun 0,20 poin, dibanding dengan bulan sebelumnya yang sebesar 1,82 hari.

Namun jika dibandingan pada Oktober 2018, rata-rata lama tamu menginap sebesar 1,82 hari atau naik 0,15 poin, jika dibanding dengan bulan sebelumnya yang sebesar 1,68 hari.

Front Office Manager Hotel Grand Dafam Bela Ternate, Agus Setiawan mengatakan, sejauh ini jumlah keterisian kamar masih relatif stabil.

“Bahkan tingkat okupansinya di luar dari ekspetasi kami. Jumlahnya di atas 72 persen,” kata Agus kepada wartawan, di Ternate, Selasa (22/1).

Namun sepanjang 2018, tingkat hunian di hotel kategori bintang 4 plus itu rata-rata 66 persen. Jumlah tertinggi 75 persen. Okupansinya baru menurun pada saat momentum Ramadan serta di bulan Januari, Februari dan Maret.

Karena di tiga bulan tersebut, dikatakan Agus, belum ada agenda pemerintahan.
Seperti meeting, insetif hingga konferensi. Agenda tersebut kemungkinan dimulai pada akhir Maret atau awal dan pada pertengahan April.

“Selain agenda pemerintahan, ada juga kunjungan wisatawan dari luar negeri. Tamu kami kebanyakan dari Belanda, Jerman, Spanyol. Presentasi tamunya, untuk lokal 75 persen. Sedangkan mancanegara 25 persen. Untuk tamu mancanegara rata-rata keperluan wisata,” jelasnya.

Soal dampak kenaikan harga tiket pesawat, Agus katakan, belum bisa diasumsikan. Bahkan dia menegaskan, kendati kenaikan harga tiket dimulai pada 1 Januari 2019, dampaknya belum menyentuh ke perhotelan di Ternate.

“Saya selalu melihat pergerakan. Kami sudah buat survei juga di Bandara Sultan Baabullah Ternate. Memang penerbangan minim karena kurang follow. Tiketnya juga masih mahal hingga sekarang,” katanya.(*)

Anda mungkin juga berminat