GMNI : PERPPU Ormas Jawab Urgensi Kebangsaan Saat Ini

0
197
Ketua GMNI Cabang Manokwari, Yosak Saroi

MANOKWARI,TN –Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Manokwari, Yosak Saroi mengatakan, Pancasila sebagai Filosofische gronslag/Weltanscauung bangsa Indonesia sudah final berdasarkan hasil rapat sidang BPUPKI.

“Pancasila tidak serta merta turun dari langit ataupun diciptakan oleh founding father akan tetapi berdasarkan dialektika kebangsaan yang diwakili oleh keterwakilan yang merepersentasi keberagaman bangsa Indonesia” Yosak Saroi melalui press releasenya yang diterima Teropong News, Minggu (16/07/2017)

Kader Marhaen berdarah Arfak ini menegaskan, GMNI mendukung penuh PERPPU pembubaran Ormas yang dikeluarkan oleh Pemerintah karena merupakan jawaban Urgensi kebangsaan saat ini.

Yosak  memaparkan, pasca pidato Bung Karno dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 telah tercapai mufakat konsensus kebangsaan bahwa dasar negara Indonesia adalah Pancasila, jika diperas menjadi tri sila yaitu sosio nasionalisme, sosio demokratis & ketuhanan, jika diperas lagi menjadi prinsip eka sila yaitu gotong royong.

Sang Proklamator itu juga menyebutkan bahwa Pancasila ini bukanlah buatannya akan tetapi digali dari nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam bumi seluruh  nusantara.

“Ditetapkannya Pancasila sebagai Dasar Negara dan termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 menjadikan Pancasila sebagai Sumber dari segala sumber hukum dalam ketata negaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Namun atas kegagapan kebangsaan sebagian besar masyarakat Indonesia menimbulkan situasi politik dan keamanan negara yang semakin hari semakin mengancam keutuhan persatuan bangsa.

Banyaknya penyebaran faham terorisme & ormas yang menentang Pancasila serta menghendaki pendirian Negara Hilafah sudahlah sangat kuat menjadi dasar dibuatnya PERPPU No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan dimana dasar hukum dari diterbitkannya PERPPU adalah Pasal 22 UUD 1945 dalam hal ini ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang.

“Almarhum Bang Taufiq Kemas rupanya telah memprediksi situasi kebangsaan kita jauh-jauh hari, walaupun sempat menjadi kontropersi terhadap langkah politiknya di kala itu. Dimana pada saat itu beliau di parlemen berangkat dari fraksi oposisi pemerintah akan tetapi kemudian beliau menjadi Ketua MPR RI” tuturnya.

Menurut Saroi, pro kontra akan selalu ada, namun akhirnya perjuangan ideologis mendiang menantu proklamator yang menetapkan 4 Pilar Kebangsaan sebagai materi pokok dalam sosialisasi anggota DPR/MPR R.I. membuktikan Kenegarawanannya sebagai kader bangsa.

“Jika saja hal itu tidak dilakukan Bang Taufik Kemas mungkin saja 99,99% bangsa kita telah melupakan pancasila sebagai Dasar Negara dan bisa jadi Indonesia pada saat ini sudah menjadi Negara Hilafah ataupun bernasib sama dengan Negara lainnya yang hancur karena perang saudara” tambahnya.(***)

Tinggalkan Komentar