Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Merajut Noken Nyatakan Harga Diri Orang Papua di Mata Dunia

0 53
Tas noken yang dipasarkan di festival noken di lapangan hoki kampung baru Sorong. Foto/wim.

Sorong, TN- Ratusan masyarakat Papua di kota Sorong provinsi Papua Barat ikut meramaikan Festival Noken 2018 “Pakai Noken Support Mama Papua” yang berlangsung di lapangan hocky Kampung Baru, Selasa (4/12).

Festival tersebut, merupakan bagian dari peringatan Hari Noken Sedunia yang diperingati setiap tahun pada tanggal 04 Desember.

Noken atau tas rajut khas Papua yang terbuat dari kulit kayu dan anyaman daun tikar ini, sejak tahun 2012 telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia bukan benda.

Noken yang diproduksi oleh tangan trampil mama-mama Papua ini diakui dunia karena dianggap unik dengan filosofi “Rahim Perempuan yang Memberi Kehidupan.”

Seperti pengakuan mama Margaretha Tatogo, perempuan tangguh dari suku Mee Paniai Pegunungan Tengah Papua, bahwa noken merupakan harga diri perempuan Papua.

“Dari dulu kita masyrakt suku Mee dari Paniai Pegunungan Tengah ini, kita datang di Sorong, membawa anyaman noken untuk dijual di Sorong ini, sudah dari tahun sembilan puluh, kita jual di pasar Remu sampai sekarang ini,” ujar mama Margaretha Tatogo, yang juga adalah ketua kelompok penganyam noken Pepago.

Ketua Kelompok Pepago suku Mee Paniai Pegunungan Tengah, mama Margaretha Tatogo. Foto/wim.

Mama Margaretha, kepada Teropongnews.com, menceritakan proses pembuatan noken, bukanlah seauatu yangninstan, namun membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Ternyata untuk mengambil kulit pohon genemo sebagai bahan baku benang juga harus memakai pakaian adat, dan sedikit ritual khusus.

“Mau ambil kulit kayu genemo itu, kita harus pakai pakaian adat, itupun kita harus pilih pohon yang bagus untuk dijadikan benang. Jadi tidak sembarang kulit pohon genemo kita ambil,” jelasnya.

Proses pembuatan benang dari kulit pohon genemo itu, memakan waktu mencapai satu bulan, karena harus melewati beberapa tahap.

Selanjutnya dari benang tersebut, dirajut akan memakan waktu selama dua minggu untuk menghasilkan satu buah tas noken berukuran sedang.

“Hitung-hitung kalau dari kulit kayu sampai jadi benang memakan waktu aatu bulan, dari benang sampai jadi satu noken menghabiskan waktu selama dua minggu,” imbuh perempuan asal Paniai ini.

PASAR

Bertahun-tahun menganyam noken sebagai mata pencaharian guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga, adalah perjuangan mama Margaretha Tatogo dan kelompoknya yang dikenal dengan nama Kelompok Pepago suku Mee Paniai Pegunungan Tengah.

Hasil rajutan tas noken tidak dirajut dan kemudian dibiarkan begitu saja, namun hasil buah tangan mama-mama tangguh ini, dipasarkan melalui sebuah komunitas noken, tetapi juga dipajakan atau dijual langsung di pasar Remu.

“Cuman ini saja yang menjadi mata pencaharian kami, kami makan dari hasil noken ini, kalau kami tidak jual sendiri atau lewat komunitas noken, kami mau dapat uang dari mana,” harap mama Margaretha.

Pasar merupakan tempat terakhir perjuangan mama-mama Papua merajut tas yang dinilai unik oleh UNESCO ini. Lewat pasarlah mereka bisa menghidupkan keluarga mereka.

Lewat Festival Noke tersebut, mama mama Papua ini berharap, supaya pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap para pengrajin noken di kota dan kabupaten Sorong. (*)