Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Marak Peredaran Satwa Liar Ilegal di Maluku dan Malut, Ini Penyebabnya

0 36

Ternate, TN – Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) ilegal di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara khususnya, perdagangan jenis burung paruh bengkok sangatlah tinggi.

“Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingginya permintaan TSL dilindungi khususnya, jenis burung paruh bengkok, banyaknya pintu keluar masuk peredaran TSL ilegal, dan kurangnya pengawasan karena terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM),” ungkap Kepala BKSDA Maluku dan Maluku Utara, Muhktar Amin Ahmadi, di Ternate, Senin (4/2).

Menurut dia, peredaran TSL ilegal tersebut, tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga sampai kebeberapa negara tetangga seperti Filipina, Singapura dan Thailand.

Berdasarkan hasil temuan kasus peredaran TSL ilegal selama tahun 2018, lokasi tempat pengambilan TSL khususnya jenis burung paruh bengkok berasal dari wilayah Maluku antara lain, Dobo, Saumlaki, Pulau Seram, dan Pulau Buru. Sedangkan di Maluku Utara, antara lain di Pulau Obi, Pulau Bacan dan Pulau Morotai.

Pihaknya, menurut Muhktar, selama periode Januari hingga Desember 2018, berhasil menyelamatkan 1.402 satwa dengan rincian 1.177 ekor jenis burung, 156 ekor Kepiting Kenari (Birgus latro), 32 ekor Monyet Hitam/Yaki (Macaca nigra), 20 ekor Kura-kura air tawar (Freswater terrapins), enam ekor buaya muara (Crocodylus porosus), enam ekor penyu, tiga ekor ular sanca batik (Phyton reticulatus), satu ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicukaris) dan satu ekor ikan paus sperma (Physter macrocephalus).

“Selain satwa hidup yang berhasil diamankan, juga bagian-bagian satwa seperti kulit buaya muara (Crocodylus porosus), telur burung gosong (Eulipoa, sp) dan tanduk rusa (Cervus timorensis),” terangnya.

Sedangkan beberapa jenis tumbuhan juga diamankan, menurut Muhktar, diantaranya 29 opsetan cendrawasih, tujuh opsetan tanduk rusa, lima telur burung gosong, empat akar bahar, tiga rumpun anggrek.(*)

Anda mungkin juga berminat