Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Komisi VII Janji Datangkan Investor Kopra Ke Malut

0 23

Sofifi, TN – Anggota Komisi VII DPR RI Tjatur Sapto Edy berjanji, akan mendatangkan investor kopra ke Provinsi Maluku Utara (Malut). Hal ini dilakukan, dalam rangka mengatasi persoalan anjloknya harga kopra di provinsi setempat.

Maluku Utara (Malut), Dia berharap, dengan masuknya investor ini, akan mendorong perekonomian sekaligus memperbaiki nasib petani kopra di Malut.

“Salah satu perusahaan yang tertarik untuk masuk adalah perusahaan asal India, PT Putra Nusantara Himalaya Kurniajaya. Perusahaan ini telah mempresentasikan profil perusahaan sekaligus cara kerja mereka di Kantor Gubernur Maluku Utara,” kata Edy kepada wartawan, di Sofifi, Selasa (12/2).

Tjatur mengaku prihatin, dengan kondisi murahnya harga kopra petani. Menurutnya, harga jual kopra tidak sebanding dengan biaya produksinya.

“Harga di pasaran sekitar Rp.2500 per kg, sementara produksinya saja sekitar Rp.1750 per kg. Akibatnya banyak petani yang tidak mau memanen kelapanya,” kata Tjatur.

Terkait hal ini, kemudian Tjatur mengundang mitranya yang tengah membangun industri minyak kelapa di Bengkulu, untuk berinvestasi di Maluku Utara.

Dia mengatakan, untuk menyambut abad Pasifik mendatang, Malut harus berbenah terutama dengan mempersiapkan generasi mendatang yang lebih kuat supaya mampu menjadi tuan rumah yang baik, bukan sebagai penonton. Untuk menghasilkan generasi mendatang yang kuat, perlu peningkatan kualitas pendidikan berikut sarana dan prasarananya.

“Artinya pendapatan daerah dan masyarakat Malut harus ditingkatkan, pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi,” ungkapnya.

Tjatur menyampaikan ada dua hal besar yang menjadi perhatian utamanya di Malut. Pertama, penyediaan energi mandiri, murah dan berkelanjutan. Kedua, solusi atas penurunan komoditas utama ekonomi yang menyangkut mayoritas rakyat Malut, yaitu Kopra. Berkenaan kedua hal tersebut, Tjatur bergerak cepat terjun langsung menangani.

CEO PT Putra Nusantara Himalaya Kurniajaya, Lalitkumar mengatakan, perusahaannya sudah lama ekspansi di Indonesia. Mereka sedang membuka pabrik minyak goreng di Bengkulu.

Kumar, mengakui Maluku Utara memiliki bahan baku produk yang melimpah. Sehingga ia siap membangun pabrik minyak kelapa secara bertahap hingga berkapasitas 1000 ton per hari.

“Saya heran, kelapa disini, bahkan di daerah bukit pun ditanam. Seharusnya dengan kelapa saja masyarakat sudah sejahtera,” kata dia.

Jika ada persetujuan investasi dari Pemprov Malut, kata dia, pihaknya lebih dulu melakukan penanganan harga kopra dengan cara membeli buah kelapa yang akan diangkut dengan kapal perusahaan. Sistem jual beli yang mereka pakai, kata dia, yakni menggunakan sistem teknologi informasi, dengan menciptakan program Kelapaku.

“Petani tinggal menyediakan kelapa, berapa jumlahnya dan perusahaan langsung datang menjemput di tempat. Tidak perlu lagi harus sampai dibelah dan diasapin,” katanya.

Dalam program jangka panjang, kata Lalitkumar, akan dibangun pabrik minyak di Malut dengan kapasitas produksi bisa mencapai 1000 ton per hari. Program pembangunan pabrik ini tentu membutuhkan lahan luas, kurang lebih 150 hektare .

Ditempat terpisah, Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba sangat antusias menyambut calon investor tersebut.

“Sudah waktunya kita bergerak cepat mengatasi masalah harga kopra, jangan hanya rapat ke rapat saja, yang belum membuahkan hasil”, ujar Gubernur terpilih tersebut.

Sementara itu, Bupati Halmahera Timur, Muhdin mengaku, sudah menyiapkan kawasan ekonomi jika calon investor akan membangun pabrik kelapa didaerahnya.(*)

Anda mungkin juga berminat