Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Ketua DPRP: Silahkan Polisi Tindak Lanjuti Dugaan Penganiayaan Dua Petugas KPK

0 57

Jayapura, TN – Ketua DPR Papua Yunus Wonda membuka ruang bagi kepolisian untuk menindak lanjuti dugaan penganiayaan terhadap dua petugas KPK sebagaimana di sampaikan juru bicara KPK Febry Indansyah.

“Kalau memang ada tindakan penganiayaan kami persilahkan untuk di tindak lanjut oleh kepolisian, dan kami siap memberi keterangan,” kata Yunus Wonda, Minggu (3/2/2019) malam.

Yunus sendiri tidak bisa memberi keterangan lebih terkait dugaan tindakan penganiayaan tersebut, lantaran ia sendiri berada agak sedikit jauh dari kerumunan orang-orang yang ada saat kejadian.

“Yang setau saya sebatas tas yang di curigai berisi sesuatu itu yang di todongkan Pak Nus (Kabid Anggaran BKAD Papua,red) ke depan pemuda itu, nah kalau ada tindakan lain setelah itu saya tidak tau karna posisi saya sudah agak jauh,” jawab Yunus tidak memberikan bantahan terkait insiden tersebut.

Justru, sambungnya Petugas KPK ini di bawa ke Polda Metro Jaya untuk di perjelas apakah keduanya petugas KPK atau gadungan. “ kita bawa mereka untuk pastikan kebenaran apakah mereka Petugas KPK atau KPK gadungan, dan itu kewenangan kepolisian,” kata Yunus.

Yunus Wonda mengatakan pihaknya tidak menghalang-halangi tugas KPK dan mendukung proses kinerja KPK dalam upaya pemberantasan korupsi.

“Intinya gini kami dukung kinerja KPK, tapi saya kembali mengatakan bahwa saat itu kami sedang rapat evaluasi APBD Papua bersama Kemendari, TAPD Papua dan Gubernur Papua, “kata Yunus Wonda.

“Ini rapat terbuka, rapat resmi dan tidak ada yang di sembunyikan,” kata Yunus lagi.

Yunus mengaku merasa tidak nyaman lantaran terkesan seolah di pantau, padahal masing-masing menjalankan tupoksinya.

“ ya kita ini kan sama-sama bekerja, trus dengan di foto dan di laporkan ke pimpinannya dengan menyebutkan nama Gubernur Papua, Ketua DPRP, Kadisorda, Kadis PU, ini kan tidak baik. Dan kami merasa tidak nyaman dengan hal ini,” kata Yunus.

Sebelumnya, Yunus mengatakan usai rapat evaluasi, rombongan TAPD dan Banggar DPRP Papua menunggu kendaraan di teras Hotel Borobudurc, saat itu Sekda Papua mencurigai seorang Pemuda yang duduk sambil terus memotret ke arah rombongan yang sedang berdiri di teras hotel tempat menunggu kendaraan.

Mirisnya, setelah HP si pemuda ini diperiksa untuk memastikan foto yang diambilnya, ternyata di dalam HP tersebut ada juga percakapan whats app si petugas KPK yang sempat dibaca beberapa orang dilokasi. Dimana dalam percakapan itu, antara lain menyebut laporan pantauan pergerakan Gubernur Papua, Ketua DPRP, Kadisorda, Kadis PUPR dan Kabid Anggaran BPKAD Papua, Nus Weya yang saat itu masih menggendong ransel.

Karna membaca isi pesan itu, Nus Weya membuka ranselnya dan menodongkan ransel tersebut ke depan petugas KPK.

“Jadi pak Nus buka ranselnya dan bilang sama petugas KPK, kamu lihat ada uang ka tidak disini??,” kata Yunus Wonda mengulang perkataan Kabid Anggaran.

Sebagaimana di lansir Detik.com Minggu (3/2/2019) KPK menyebutkan, sesaat sebelum dua pegawainya mengalami penganiayaan, sedang terjadi rapat antara Pemprov dan DPRD Papua. Dua pegawai KPK itu disebut Febri sedang melakukan tugas pengecekan dari laporan masyarakat tentang indikasi tindak pidana korupsi.

“Sebelum dua pegawai dianiaya, di lokasi tersebut dilakukan rapat pembahasan hasil review Kemendagri terhadap RAPBD Papua tahun anggaran 2019 antara pihak Pemerintah Provinsi dan DPRD,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada detikcom, Minggu (3/2/2019).

Febri menyebut peristiwa penganiayaan itu terjadi setelah rapat itu selesai. Namun Febri tidak menyebut detail siapa terduga pelaku penganiayaan itu serta tidak menyebut apa kaitan kegiatan itu dengan dugaan penganiayaan 2 pegawai KPK tersebut. Dia hanya mengatakan pegawai KPK itu mengalami luka di wajah.

KPK pun sudah melaporkan hal ini ke Polda Metro Jaya. Sedangkan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 2 Februari 2019.

“Yang dipukul si penyelidik KPK ini,” ucap Argo saat dimintai konfirmasi terpisah. “Dipukul sama siapa?” tanya wartawan.

“Ya bukan sama gubernurnya, bukan. Ada seseorang di situ,” jawab Argo.

Namun Argo tidak membuka identitas siapa yang diduga menganiaya pegawai KPK tersebut. Selain itu, Argo tidak menyebut siapa gubernur yangdimaksudnya tersebut, termasuk kaitannya dengan dugaan peristiwa penganiayaan tersebut.

Sedangkan Kapuspen Kemendagri Bahtiar memastikan rapat itu tidak diikuti pejabat atau staf dari kementerian. “Pejabat atau staf Kemendagri tidak ada di lokasi saat kejadian,” katanya.

Anda mungkin juga berminat