Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Jaksa Pastikan Dua DPO Koruptor Bank Maluku Ditemukan

0 110

Ambon, TN – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku memastikan akan menemukan dua orang yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) yang merupakan terpidana dua skandal yang terjadi di Bank Maluku, masing-masing Yusuf Rumatoras dan Hentje Abraham Toisuta.

“Kita sudah keluarkan DPO, karena kita cek ke tempat tinggal masing-masing yang bersangkutan tidak ada. Sudah ditanyakan juga kepada ketua RT-nya. Kesimpulannya, mereka telah melarikan diri,” ujar Kepala Seksi Penuntutan (Kasitut) Kejati Maluku, Rolly Manampiring kepada wartawan, di Ambon, Rabu (5/12).

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Maluku Erryl Agoes kepada wartawan menyatakan optimistis, pihaknya dapat menemukan kedua terpidana.

“Kalo cari DPO kita alatnya lebih canggih dari KPK,” ujar Agoes.

Wakajati tidak menjelaskan peralatan atau teknik yang digunakan pihak kejaksaan menemukan para terpidana yang dinyatakan DPO, namun Agoes mengaku Kejaksaan memiliki sistem sendiri.

“Di Kejaksaan kita punya monitoring adhyaksa yang berfungsi memantau pergerakan mereka, jadi kita tunggu saja,” imbuh Erryl.

Untuk diketahui, Yusuf Rumatoras merupakan terpidana perkara kredit macet senilai Rp 4 miliar di Bank Maluku. Awalnya Rumatoras dinyatakan bebas langsung. Artinya ada perbuatan, namun perbuatan yang didakwakan Jaksa, dinyatakan hakim bukan perbuatan pidana.

Hingga akhirnya Jaksa mengajukan kasasi langsung di Mahkamah Agung RI, Yusuf akhirnya dijerat 5 tahun penjara. Selain pidana badan, Direktur PT Nusa Ina Pratama (NIP) itu dihukum membayar uang pengganti Rp 4 miliar jika tidak, hukuman ditambah empat tahun penjara.

Akan halnya Hentje Abraham Toisuta, Upaya hukum Dirut CV Harves Heintje Abraham Toisuta untuk bebas dari jeratan hukum kandas di Mahkamah Agung RI. Putusan terhadap Hentje menambah hukumannya menjadi 12 tahun penjara.

Hentje terbukti bersalah dalam perkara pembelian lahan dan gedung kantor cabang Bank Maluku di Surabaya senilai Rp 54 miliar. Ia juga dihukum denda Rp 1 miliar subsider 8 bulan kurungan, serta diwajibkan membayar uang pengganti Rp 7,2 miliar subsider 4 tahun penjara.