Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Ikan Hasil Tangkapan Ditolak Pasar, Nelayan Ambon Protes

0 17

Ambon, TN – Ledakan fitoplankton di Teluk Ambon Dalam, Kota Ambon, membuat puluhan nelayan jaring apung (keramba) di perairan pesisir Desa Waiheru, Kecamatan Baguala mengadu di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Rabu (16/1). Karena ikan dari hasil keramba mereka ditolak di sejumlah pasar dan rumah makan.

Salah satu nelayan asal Waiheru, Kasim (33) menyesalkan salah satu media daring di Ambon mengabarkan berita tidak sesuai dengan fakta. Pasalnya isi berita itu disertai dengan foto ikan yang sudah mati, hal tersebut sontak membuat warga khawatir.

“Kami menyesalkan media yang awalnya menulis dengan gambar ikan yang sudah mati, padahal belum ditemukan. Rumah makan dan pasar yang biasa kami pasok juga tidak mau menerima,” kata Kasim.

Para nelayan juga bertemu dengan peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam-Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (PPLD-LIPI) Ambon, Hanung Agus Mulyadi.

Hanung mengatakan, ia dan beberapa peneliti telah melakukan pertemuan dengan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy dan Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) untuk membahas solusi penanganan ledakan fitoplankton.

“Tadi (kemarin), saya dan peneliti dari LIPI rapat khusus dengan Pak Wali Kota serta SKPD terkait. Insya Allah, dalam waktu dekat akan ada press release,” katanya.

Ledakan fitoplankton terjadi sejak Kamis pagi (10/1), dengan luasan mencapai 31 hektar di perairan Desa Lateri dan Passo, Kecamatan Baguala hingga kawasan Poka, Kecamatan Teluk Ambon. Tingkat kepadatan ledakan terbilang tinggi, yakni 9-100 ribu sel per liter hingga 2,5-1000 juta sel per liter.

Ledakan fitoplankton jenis Dinoflagelata Gonyaulax itu belum menimbulkan kematian ikan. Namun, beredarnya surat himbauan j Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Persampahan (DLHKP) Ambon bernomor 050/16/DLHP itu membuat nelayan panik.

Surat itu ditujukan kepada camat se-Kota Ambon, berisi hikbauan tidak mengonsumsi ikan dan kerang dari teluk dalam.

Sementara itu, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon, Hermawan menyatakan, dari pengamatan BPL ikan di kawasan Teluk Ambon masih aman dikonsumsi.

“Sejauh ini ikan masih aman dikonsumsi. BPL dan Balai Karantina Ikan bekerjasama untuk melakukan penelitian, dan akan melaporkan ke publik,” ungkapnya.

Dia membenarkan adanya ledakan fitoplankton, namun ledakan itu tidak mengeluarkan racun hingga menyebabkan kematian ikan seperti yang dikhawatirkan warga.

“Kematian ikan bisa disebabkan berbagai faktor antara lain, kekurangan oksigen dalam air dan penyakit ikan,” tandas dia.