Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Disnakertrans Malut Temukan TKA Di Perusahaan Tambang

0 27

Ternate, TN – Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Maluku Utara, Amir Sangadji mengatakan, sejauh ini sudah ada temuan Tenaga Kerja Asing (TKA) di perusahaan pertambangan.

“Tahun 2017 kita kejar di lapangan, kita keluarkan langsung di lapangan. Itu di salah satu perusahaan di Obi, Halmahera Selatan,” ujar Amir kepada wartawan, di Ternate, Minggu (3/2).

Seperti yang terjadi di Pelabuhan Bastiong Ternate, dikatakan Amir, pihaknya mengamankan 43 orang. Mereka hendak masuk di PT. Harita Group. Kemudian 23 orang ditemukan di perusahaan tambang PT. Wana Tiara Persada.

Di akhir 2018, pihaknya menemukan 7 orang. Namun dari hasil pemeriksaan, mereka sudah melakukan pembayaran dokumen serta memiliki izin masuk. “Sehingga kita perbolehkan masuk, tentu setelah melihat bukti-bukti pembayaran,” katanya.

Amir menjelaskan, dalam data terakhir, jumlah TKA di Maluku Utara sebanyak 1.210 orang. Mereka tersebar di Halmahera Tengah, Halmahera Timur dan Halmahera Selatan. Namun pihaknya belum mengecek di Pulau Obi.

“Angka terakhir itu 1.100 sekian orang. Itu belum dirangkum di PT. Weda Bay Nikel. Kabarnya jumlah mereka 156 orang. Tapi mereka memiliki dokumen. Jadi ada peningkatan kurang lebih 1.200 sekian. Rata-rata berkewarganegaraan Cina,” jelasnya.

Dikatakan Amir, kehadiran tenaga kerja Cina bukan berarti menganggu angka pengangguran. Sebab TKA dilihat dari sisi skill. Bukan non skill. Namun pada 2016 pernah ditemukan. Bahkan ada yang memiliki jabatan ganda.

“Itu di PT. Nusa Halmahera Mineral dan PT. Fajar Bakti. Jadi kita tegur perusahaannya. Karena TKA yang kerja sebagai cleaning service, itu tidak boleh. Kami keras di lapangan. Kalau ditemukan kami keluarkan,” ujarnya.

Amir mengsinyalir, kehadiran TKA asal Cina ini karena pembangunan infrastruktur smelter. Sebab jika tenaga kerja Indonesia yang diandalkan, dibutuhkan waktu cukup lama dengan biaya investasi yang besar.

“Bayangkan saja, smelter untuk PT. Wana Tiara Persada di Pulau Obi itu Rp 9 triliun. PT. Weda Bay Nikel Rp 70 triliun. Jadi itu latar belakangnya,” katanya.

Terkait jalur masuk, Amir mengaku tidak tahu. Karena dalam setiap temuan, mereka secara tiba-tiba sudah ada di lapangan. Disamping itu, kurangnya koordinasi antara pusat dengan daerah.

“Kita tidak pernah dapat informasi, tiba-tiba (TKA) sudah ada di sini. Ini kelemahan kita. Apakah miss komunkasi kita dengan pusat atau apa, kita tidak tahu. Padahal TKA harus memiliki dokumen. Jadi ini kelemahanya. Tidak ada komunikasi yang akurat,” tandas dia.(*)