Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Cekcok Dengan Keluarga Korban, Ini Klarifikasi Kepala BPJN XVII Papua

0 127

JAYAPURA,TN – Kepala BPJN XVII Wilayah Papua, Osman Marbun menyampaikan permintaan maaf kepada pihak keluarga korban terkait ucapannya yang menyinggung saat pembahasan santunan para korban pembantaian Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Mimika, Kamis (7/11/2018) lalu.

“disini saya sampaikan permintaan maaf saya kepada pihak keluarga korban atas perkataan saya saat itu yang menyinggung. Ini menjadi pelajaran untuk saya pribadi,” kata Osman kepada pers di Kantor Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Sabtu (8/11/2018) malam.

Osman menjelaskan, terkait santunan merupakan kewajiban dari PT Istaka Karya, dimana saat pembahasan dengan keluarga korban berjalan alot. Osman merasa perlu menengahi dengan memanggil Direktur Operasional Istaka Karya yang saat itu menyampaikan bahwa keluarga korban yang hadir meminta satunan sebesar Rp1 Miliar.

Istaka Karya sendiri, kata Osman selama proses pencaharian hingga pemulangan para korban memberikan tanggung jawab penuh, termasuk mendatangkan pihak keluarga serta segala keperluannya termasuk operasional pemberangkatan jenasah mulai dari lokasi kejadian hingga ke kampung halaman para korban. “ jadi Istaka bertanggung jawab sepenuhnya, sehingga saya berinisiatif saat itu membantu dengan membuka pembicaraan dengan pihak kerabat korban,” kata Osman.

Saat itu, Osman mengaku menyampaikan kepada pihak keluarga bahwa tidak ada yang menginginkan kejadian ini, dan Istaka Karya telah menyampaikan bahwa nilai santunan yang diberikan BPJS sebagaimana aturan ketenaga kerjaan sesuai kontrak kerjanya. Dimana yang berhak atas santunan tersebut  adalah ahli waris, sehingga jika ahli waris tidak ada, maka tidak perlu dibahas dulu, sebab saat ini keluarga korban di kampung halaman masing-masing menunggu jasad korban.

Perkataannya itu,kata Osman, di sanggah salah satu kerabat korban dengan mengatakan bahwa nilai santunan 1 Miliar adalah harga yang tidak bisa ditawar lagi, hingga akhirnya terjadi percekcokan kecil.  “disinilah mulai alot, saya tegas katakan saat itu, ‘kau siapa’ mohon maaf lagi, ketegasan ini karna karakter kita yang hidup di Papua, saya ini sudah bagian dari Papua, karna saya katakan itu sehingga mungkin sanak keluarga tersinggung,” kata Osman kembali meminta maaf atas perkataan tersebut.

Osman mengaku, ketegasannya itu beralasan, jangan sampai santunan bagi korban ini salah sasaran, dengan pertimbangan saat itu bukan ahli waris yang hadir melainkan sanak saudara para korban. Sebab dari semua keluarga korban yang hadir saat itu bukanlah ahli waris utama.

PUPR bersama TNI/Polri bersama Istaka karya sebelumnya membawa semua kerabat korban dari  Wamena sebanyak 21 orang, termasuk 4 orang keluarga korban selamat. Namun tidak semua perwakilan keluarga korban yang datang adalah keluarga langsung dalam hal ini ahli waris yang berhak sepeti anak, istri, orang tua atau saudara kandung.

“jadi tidak ada satupun kerabat korban saat itu adalah ahli waris, kecuali korban staf PUPR yang datang adalah istrinya dari Manokwari,” kata Osman Marbun yang mengindikasikan saat pembahasan santunan yang hadir hanya sanak keluarga korban yang bedomisili di Timika

Dalam percekcokan itu juga, memang ada beberapa bahasa yang lebih kepada dialek Papua. Saat itu Osman mengaku ia mengucapkan ‘ kami sudah capek angkat ‘barang’ ini dari hutan” yang selanjutnya ini kalimat tersebut menyinggung para keluarga korban.

“saya katakan sekali lagi, tidak ada maksud saya menyinggung apalagi kata ‘barang’. Saya mohon maaf, mungkin saya terlalu berdialek ‘kepapuaan’ karna saya kurang biasa mengelola emosi publik dan ini menjadi pelajaran bagi saya pribadi, jadi saya mohon maaf,” kata Osman berharap.

Untuk diketahui, 28 korban yang mengerjakan jembatan di ruang jalan Habema –Mamugu, tepatnya di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, terdiri dari  1 korban yang merupakan staf PUPR dan 27 pekerja Istaka Karya. Dari 27 pekerja Istaka Karya  ini, hanya 2 orang karyawan Istaka Karya sementara sisanya merupakan pekerja yang di rekrut dilapangan.

Untuk diketahui kembali, bahwa dari 28 pekerja tersebut, ada 25 korban diberondong senjata, dimana 4 diantaranya selamat dan 16 meninggal dunia, serta 5 orang yang masih dalam pencaharian. (*)