Teropong News
Lugas Tegas dan Tanpa Batas

Berbagai Elemen Masyarakat di Ambon Kirim Petisi Tolak Remisi Pembunuh Jurnalis

0 36

Ambon, TN – Wartawan dan warga Kota Ambon, Provinsi Maluku, menggelar aksi penolakan remisi hukuman yang diberikan kepada I. Nyoman Susraman, pembunuh jurnalis Radar Bali.

Bentuk penolakan remisi itu tidak dengan cara turun jalan untuk berorasi. Namun, mereka ramai-ramai mengirimkan petisi penolakan secara langsung kepada Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) melalui pesan singkat yang dialamatkan kepada nomor ponsel pribadi Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Provinsi Maluku.

Sejak, Jumat (25/1) malam, hingga Senin (28/1), pesan berantai yang meminta Presiden Joko Widodo segera mencabut remisi terus dilakukan para warga biasa, pegiat HAM dan Jurnalis.

“Kami meminta Anda sebagai Kepala Kantor Kementrian Hukum dan HAM Wilayah Maluku, segera meminta Menteri Hukum dan HAM RI agar mendesak Presiden RI Bapak Joko Widodo mencabut! Remisi yang diberikan terhadap I. Nyoman Susraman, pembunuh jurnalis Radar Bali. Terima kasih,” demikian bunyi petisi itu.

Para aktivis, warga serta jurnalis menilai pemberian remisi kepada pelaku pembunuhan jurnalis sama saja melanggar Hak Azasi Manusia (HAM).

“Jurnalis mestinya dilindungi. Pelaku pembunuhan kepada jurnalis, tergolong kejahatan HAM dan tak perlu ada pengampunan,” ujar, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ambon, Abu Angkotasan kepada wartawan, di Ambon, Senin (28/1).

Selain itu, mereka juga mendesak Presiden Joko Widodo, agar bertanggungjawab menyelesaikan seluruh kasus kekerasan dan pembunuhan kepada jurnalis di Indonesia. Presiden harus memerintahkan Kapolri untuk dapat segera membawa seluruh pelaku kejahatan ke meja hijau.

“Jika memberikan pengampunan atau menurunkan masa hukuman bagi pelaku pembunuh jurnalis maka Presiden Joko Widodo tidak pro terhadap kebebasan pers di Indonesia,” ujar Husen warga Kota Ambon.

Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Maluku, Juhri Samanery menambahkan, pemberian Remisi ditengah tingginya angka kekerasan kepada jurnalis sangat tidak tepat.

Presiden mestinya memahami bahwa pemberian remisi sangat melukai nurani para pekerja pers di Indonesia termasuk di Maluku.

“Kami sangat kecewa dengan keputusan Presiden yang memberikan remisi kepada Pelaku Pembunuhan wartawan Radar Bali. Ini preseden buruk bagi sejarah pers di Indonesia,” tandas Juhri.(*)

Anda mungkin juga berminat